JCCNetwork.id- Bank Indonesia (BI) mengungkap salah satu faktor struktural yang membuat nilai tukar rupiah masih rentan mengalami tekanan terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Kondisi tersebut berkaitan dengan neraca transaksi berjalan Indonesia yang secara historis cenderung berada dalam posisi defisit.
Gubernur BI Destry Damayanti mengatakan, karakteristik perekonomian Indonesia sebagai negara berkembang membuat defisit transaksi berjalan menjadi salah satu tantangan yang perlu diperhatikan dalam menjaga stabilitas nilai tukar.
Menurut Destry, kondisi transaksi berjalan Indonesia berbeda ketika pandemi Covid-19 berlangsung. Pada periode tersebut, aktivitas ekonomi dan permintaan domestik mengalami pelemahan sehingga tekanan terhadap transaksi berjalan ikut berubah.
“Indonesia ini negara berkembang, kita selalu menghadapi current account deficit, kecuali pada Covid, di mana pada saat itu economic activity-nya melemah. Negara dengan current account deficit, cenderung currency-nya akan rentan,” ucap Destry dalam Rapat Kerja bersama Komisi XI DPR, Senin (28/9/2026).
Destry menjelaskan, defisit transaksi berjalan pada dasarnya mencerminkan kebutuhan pembiayaan eksternal suatu negara. Ketika kebutuhan valuta asing lebih besar, kondisi tersebut dapat meningkatkan kerentanan nilai tukar, terutama ketika terjadi perubahan sentimen di pasar keuangan global.
Karena itu, Indonesia membutuhkan sumber pembiayaan yang mampu menopang perekonomian dalam jangka panjang. Salah satu instrumen yang dinilai penting adalah aliran modal masuk melalui investasi langsung atau Foreign Direct Investment (FDI).
Investasi langsung memiliki karakteristik berbeda dibandingkan aliran modal portofolio yang dapat bergerak lebih cepat mengikuti perubahan kondisi pasar. Masuknya investasi jangka panjang diharapkan dapat membantu memperkuat sumber pembiayaan eksternal sekaligus mengurangi tekanan terhadap nilai tukar.
Namun, Destry mengakui bahwa mendatangkan modal jangka panjang dalam jumlah yang memadai masih menjadi pekerjaan rumah bagi Indonesia.
CAD Melebar
Kerentanan tersebut terlihat dari perkembangan transaksi berjalan Indonesia sepanjang 2026. Berdasarkan data BI, defisit transaksi berjalan pada kuartal II 2026 tercatat mencapai 12,5 miliar dolar AS atau sekitar 3,3 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).
Defisit tersebut meningkat signifikan dibandingkan kuartal sebelumnya. Pada kuartal I 2026, transaksi berjalan Indonesia mencatat defisit sebesar 3,6 miliar dolar AS atau setara 1 persen terhadap PDB.
Pelebaran defisit pada kuartal II 2026 antara lain dipengaruhi oleh membesarnya defisit perdagangan minyak dan gas (migas). Kenaikan harga minyak dunia turut meningkatkan nilai impor energi sehingga memberikan tekanan lebih besar terhadap neraca perdagangan migas.
Di sisi lain, surplus perdagangan nonmigas juga mengalami penyempitan. Kondisi tersebut terjadi seiring meningkatnya kebutuhan impor untuk mendukung aktivitas perekonomian domestik.
Peningkatan aktivitas ekonomi domestik pada satu sisi menunjukkan adanya permintaan yang lebih kuat. Namun, ketika kebutuhan tersebut turut meningkatkan impor, kondisi itu dapat memberikan tekanan terhadap transaksi berjalan karena kebutuhan valuta asing ikut meningkat.
Situasi tersebut menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan dalam menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.
Rupiah Kembali Tertekan
Tekanan terhadap rupiah juga terlihat pada perdagangan Senin (28/9/2026). Berdasarkan data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia, nilai tukar rupiah berada di level Rp17.965 per dolar AS.
Pergerakan tersebut menunjukkan bahwa tekanan terhadap rupiah tidak hanya berkaitan dengan sentimen pasar keuangan global. Faktor fundamental domestik, termasuk kondisi transaksi berjalan dan kebutuhan valuta asing, turut menjadi bagian dari dinamika nilai tukar.
Kondisi tersebut membuat penguatan fundamental ekonomi menjadi bagian penting dalam menjaga stabilitas rupiah. Selain pengelolaan kebijakan moneter dan stabilisasi pasar valuta asing, kemampuan Indonesia menarik investasi langsung juga menjadi salah satu faktor yang dapat memperkuat ketahanan eksternal.
Bagi Indonesia, keberadaan defisit transaksi berjalan bukan merupakan fenomena baru. Namun, ketika defisit melebar secara signifikan, kebutuhan terhadap sumber pembiayaan eksternal yang stabil menjadi semakin besar.
BI pun terus mencermati perkembangan neraca eksternal Indonesia, termasuk dinamika perdagangan barang, harga komoditas global, kebutuhan impor, serta arus modal masuk.
Pelebaran defisit transaksi berjalan pada kuartal II 2026 menjadi salah satu indikator yang menunjukkan adanya peningkatan tekanan eksternal. Pada saat yang sama, pelemahan rupiah terhadap dolar AS memperlihatkan pentingnya menjaga keseimbangan antara kebutuhan valuta asing dengan ketersediaan sumber devisa.
Dengan kondisi tersebut, stabilitas rupiah ke depan tidak hanya akan ditentukan oleh perkembangan pasar global, tetapi juga oleh kemampuan perekonomian domestik menjaga keseimbangan transaksi eksternal dan menarik investasi jangka panjang.
BI menilai arus modal yang bersifat permanen, khususnya melalui investasi langsung, diperlukan untuk memperkuat ketahanan ekonomi Indonesia menghadapi tekanan nilai tukar.
Upaya memperbesar investasi langsung sekaligus menjaga keseimbangan transaksi berjalan menjadi tantangan yang perlu dihadapi secara berkelanjutan agar tekanan terhadap rupiah dapat dikelola dan ketahanan eksternal Indonesia semakin kuat.







