JCCNetwork.id- Pemanfaatan energi bersih mulai memberikan dampak langsung terhadap aktivitas ekonomi masyarakat pesisir di Desa Kelan, Bali. Nelayan setempat kini memanfaatkan kapal bertenaga listrik yang tidak hanya mampu menekan biaya operasional, tetapi juga membuka peluang pendapatan baru melalui pengembangan wisata susur mangrove.
Penggunaan kapal listrik tersebut menjadi bagian dari Program Desa Energi Berdikari (DEB) Keluarga Nelayan Lestari (KENALI) yang didukung PT Pertamina International Shipping (PIS). Program ini mengintegrasikan pemanfaatan energi terbarukan, pengelolaan lingkungan pesisir, serta penguatan ekonomi keluarga nelayan.
Salah satu anggota Kelompok Usaha Bersama (KUB) Tanjung Sari, I Wayan Wirtha, mengatakan penggunaan kapal listrik membuat pengeluaran untuk operasional kapal jauh lebih rendah dibandingkan ketika masih mengandalkan bahan bakar konvensional.
Menurut dia, sebelumnya kebutuhan bahan bakar dapat menghabiskan sekitar Rp600.000 setiap bulan. Setelah kapal beralih menggunakan tenaga listrik, biaya tersebut turun menjadi sekitar Rp200.000 per bulan yang disiapkan sebagai dana cadangan operasional.
“Selain mendapat tambahan penghasilan dari ecotrip, biaya operasional kami juga jauh lebih hemat. Dulu pengeluaran untuk bahan bakar bisa mencapai Rp600.000 per bulan, sekarang sekitar Rp200.000 saja sebagai cadangan,” ujar anggota Kelompok Usaha Bersama (KUB) Tanjung Sari I Wayan Wirtha dalam keterangan yang diterima di Jakarta, Kamis.
Dukungan energi bersih dalam program tersebut diwujudkan melalui pembangunan ruang serbaguna untuk KUB Tanjung Sari. Fasilitas itu dilengkapi sistem panel surya dengan kapasitas 8,72 kilowatt peak (kWp).
Panel surya tersebut dimanfaatkan sebagai sumber energi untuk stasiun pengisian daya kapal. Infrastruktur itu mendukung pengoperasian 10 baterai dan lima mesin kapal listrik yang digunakan masyarakat dalam kegiatan ekonomi mereka.
Peralihan dari mesin berbahan bakar minyak ke mesin listrik tidak hanya berdampak terhadap biaya operasional. Karakter mesin listrik yang menghasilkan suara lebih rendah juga memberikan manfaat terhadap aktivitas wisata di kawasan mangrove Desa Kelan.
Kawasan mangrove tersebut menjadi habitat bagi berbagai jenis burung. Sebelumnya, penggunaan kapal dengan mesin konvensional ketika membawa wisatawan berpotensi menimbulkan gangguan suara terhadap lingkungan dan satwa di kawasan tersebut.
Dengan hadirnya kapal listrik, masyarakat memiliki pilihan transportasi yang lebih sesuai untuk kegiatan wisata berbasis lingkungan. Nelayan kemudian mengembangkan layanan mangrove ecotrip, yakni wisata menyusuri kawasan mangrove menggunakan kapal listrik.
Kegiatan wisata tersebut sekaligus menciptakan sumber pemasukan tambahan bagi kelompok nelayan. Dalam satu kali perjalanan, masyarakat dapat memperoleh pendapatan hingga Rp350.000.
Dengan demikian, kapal listrik tidak hanya diposisikan sebagai sarana untuk menghemat penggunaan bahan bakar, tetapi juga menjadi bagian dari diversifikasi usaha masyarakat pesisir.
Program KENALI juga tidak berhenti pada penggunaan energi terbarukan. Aspek pengelolaan lingkungan menjadi bagian lain dari pemberdayaan masyarakat di Desa Kelan.
Masyarakat bersama Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS3R) Desa Kelan telah melakukan pengelolaan terhadap 183 kilogram sampah rumah tangga. Upaya tersebut diarahkan untuk mengurangi potensi sampah yang masuk dan mencemari kawasan pesisir maupun laut.
Selain pengelolaan lingkungan, program tersebut turut menyasar peningkatan kapasitas keluarga nelayan. Para istri nelayan mendapatkan pelatihan literasi keuangan serta pendampingan pengembangan usaha.
Salah satu bentuk pendampingan diarahkan pada pengolahan hasil laut menjadi produk yang memiliki nilai tambah. Masyarakat tidak hanya didorong menjual hasil tangkapan dalam bentuk bahan mentah, tetapi juga mengembangkan produk olahan yang memiliki identitas dan kemasan lebih menarik.
Salah seorang penerima manfaat, Luh, mengaku pendampingan tersebut memberikan pemahaman baru mengenai cara mengembangkan produk olahan ikan agar lebih mampu bersaing.
“Sekarang saya lebih memahami cara membuat kemasan yang menarik dan memperkuat identitas produk, sehingga usaha yang saya jalankan memiliki nilai jual yang lebih baik,” ujarnya.
Pjs. Corporate Secretary PIS Vega Pita mengatakan penguatan ekonomi masyarakat pesisir perlu dilakukan bersamaan dengan upaya mempertahankan kondisi lingkungan laut.
Menurutnya, masyarakat pesisir memiliki ketergantungan yang erat terhadap kesehatan ekosistem laut sehingga peningkatan kesejahteraan perlu dibangun melalui pendekatan yang tetap memperhatikan keberlanjutan lingkungan.
“PIS meyakini bahwa masa depan masyarakat pesisir dan kesehatan ekosistem laut saling berkaitan. Melalui akses energi yang lebih bersih dan pemberdayaan yang berkelanjutan, kami ingin mendukung masyarakat untuk meningkatkan kesejahteraan tanpa mengorbankan lingkungan yang menjadi sumber penghidupan mereka,” katanya.
Program KENALI di Desa Kelan pada akhirnya menggabungkan sejumlah aspek pemberdayaan dalam satu ekosistem kegiatan. Energi surya digunakan untuk mendukung operasional kapal listrik, kapal tersebut dimanfaatkan untuk kegiatan ekonomi dan wisata, sementara pengelolaan sampah serta pelatihan usaha diarahkan untuk memperkuat keberlanjutan lingkungan dan pendapatan keluarga nelayan.
Pemanfaatan teknologi energi bersih tersebut juga memperlihatkan bagaimana aktivitas ekonomi masyarakat pesisir dapat dikembangkan tanpa sepenuhnya bergantung pada bahan bakar konvensional. Di sisi lain, kawasan mangrove tetap dapat dimanfaatkan sebagai ruang wisata dengan upaya menekan gangguan terhadap ekosistem.
Bagi masyarakat Desa Kelan, keberadaan kapal listrik sekaligus memberikan dua manfaat ekonomi. Biaya operasional kapal dapat ditekan, sementara peluang pendapatan baru dari wisata susur mangrove terbuka. Pendekatan tersebut menjadi bagian dari upaya membangun kegiatan ekonomi pesisir yang lebih efisien sekaligus memperhatikan keberlangsungan lingkungan.



