JCCNetwork.id-Orang tua santri difabel berinisial MO (17) menyoroti sistem pengawasan di Pondok Pesantren (Ponpes) Bumi Aswaja, Desa Wonokerto, Kecamatan Dukun, Kabupaten Gresik, Jawa Timur.
Sorotan itu muncul setelah MO diduga mengalami perundungan dan kekerasan selama berada di lingkungan pesantren.
Ayah MO, Abdul Manan, mengatakan dugaan kekerasan terhadap anaknya berlangsung sejak pertama kali masuk pesantren hingga kini duduk di kelas III SMK. Menurut dia, minimnya pengawasan di kamar santri turut membuka peluang terjadinya kekerasan berulang.
“Dahulu sempat ada satu ketua yang mengawasi saat MO kelas I SMK, tetapi setelah itu sampai tiga tahun ini tidak ada lagi pengawas yang mendampingi di kamar,” ujar Abdul Manan, Selasa (29/9/2026).
Manan menuturkan, MO beberapa kali mengaku mendapat perlakuan kasar dari teman sekamarnya.
Korban disebut pernah dipukul ketika menolak permintaan rekannya serta diminta mengerjakan pekerjaan seperti mencuci pakaian milik teman sekamar.
Kekerasan yang dialami korban disebut tidak berhenti pada pemukulan.
Menurut keterangan yang disampaikan keluarga, MO juga pernah dikeroyok dan mendapat perlakuan berupa penyundutan rokok ketika tidak memenuhi permintaan teman-temannya.
Dugaan kekerasan tersebut mencapai puncaknya sekitar dua pekan lalu.
Keluarga mengetahui MO mengalami luka bakar setelah diduga disetrika oleh seorang rekannya yang masih duduk di kelas II SMP.
“Beruntung kejadian itu bisa diketahui dan anak saya masih hidup,” keluhnya.
Keluarga, kata Manan, telah menerima penyelesaian atas kejadian tersebut dengan syarat biaya pengobatan MO ditanggung pelaku hingga korban dinyatakan sembuh.
Selain persoalan pengobatan, keluarga meminta pihak sekolah tetap memberikan kesempatan kepada MO untuk menyelesaikan pendidikannya.
Manan menyebut putranya kini tinggal menyelesaikan ujian akhir sebelum dinyatakan lulus.
“Saya juga minta ke lembaga sekolahnya agar anak saya bisa menyelesaikan belajar sampai lulus, karena kan kurang ujian akhir saja sekarang,” tambahnya.
Keluarga juga meminta pengelola pesantren memperketat pengawasan terhadap santri, khususnya di lingkungan kamar, guna mencegah kejadian serupa terulang.
“Harapannya agar para santri bisa fokus menimba ilmu sesuai harapan orangtua,” paparnya.
Pada Selasa (29/9/2026), kondisi Ponpes Bumi Aswaja terlihat sepi dari aktivitas pengurus.
Pengasuh Ponpes Bumi Aswaja Irsyadul Ibad Zarachim dan Kepala SMK Bumi Aswaja Gresik Srie Henni Ummi Nashriyah telah dikonfirmasi melalui telepon, namun belum memberikan tanggapan terkait dugaan perundungan dan kekerasan tersebut.




