JCCNetwork.id-Ratusan gerbong KRL Commuter Line yang telah dinyatakan tidak layak operasi kini ditampung di Depo KRL Depok, Jalan Kampung Rawageni, Cipayung, Kota Depok.
Berdasarkan catatan PT Kereta Api Indonesia (KAI), total terdapat 242 unit gerbong yang masuk kategori afkir dan menunggu proses konservasi, Kamis (15/1/2026).
Gerbong-gerbong tersebut dihentikan dari layanan operasional setelah melalui evaluasi teknis menyeluruh.
KAI menyatakan seluruh unit mengalami kerusakan berat dan telah melewati usia pakai, sehingga tidak lagi memenuhi standar keselamatan maupun kelayakan untuk direhabilitasi.
“Berdasarkan kondisi fisik dan analisis teknis, unit-unit ini tidak memungkinkan untuk diperbaiki atau dirawat kembali,” demikian keterangan internal KAI.
Selanjutnya, seluruh gerbong akan menjalani proses perucutan sarana KRL sebelum dipindahkan ke lokasi konservasi permanen di Stasiun Pasirbungur, Subang, Jawa Barat.
Sambil menunggu pengiriman, ratusan gerbong tersebut ditempatkan di Depo KRL Depok yang memiliki luas sekitar 2,6 hektare.
Depo ini dilengkapi 14 jalur stabling, dua jalur passing, dan 11 jalur inspeksi, dengan daya tampung maksimal mencapai 466 unit kereta.
Pantauan di lapangan menunjukkan gerbong-gerbong afkir disusun rapi dalam beberapa baris, sebagian bahkan ditumpuk hingga dua tingkat.
Setiap unit diberi penanda nomor seri menggunakan cat semprot merah. Lokasi penumpukan dapat terlihat jelas dari Jembatan Jalan Terusan Dipo.
Area penyimpanan berada di atas lahan urukan yang masih basah. Genangan air dan jejak lumpur terlihat di sejumlah titik.
Dua unit alat berat, termasuk crane, tampak berada di sekitar lokasi dan digunakan untuk penataan serta pemindahan gerbong.
Sejumlah petugas KAI juga terlihat melakukan pemeriksaan di bagian kolong salah satu gerbong. Pintu-pintu kereta dibiarkan terbuka, memperlihatkan interior yang telah kosong.
Tak jauh dari lokasi utama, deretan gerbong lain dengan kondisi serupa tampak terparkir, menunjukkan fase akhir siklus hidup sarana transportasi massal tersebut.
Gerbong-gerbong yang selama bertahun-tahun melayani mobilitas jutaan pengguna KRL di wilayah Jabodetabek itu kini resmi memasuki tahap akhir masa pakainya, menandai berakhirnya peran mereka dalam sistem transportasi rel perkotaan.
























