Harga Minyak Dunia Mulai Memble

BACA JUGA

OLAHRAGA

TECHNOLOGY

HIBURAN

JCCNetwork.id- Harga minyak dunia memulai perdagangan pada tahun 2026 dengan penurunan tipis, setelah mencatatkan kerugian tahunan terbesar sejak 2020.

Penurunan ini terjadi di tengah kekhawatiran investor terkait kelebihan pasokan minyak global, di samping risiko geopolitik yang masih membayangi, termasuk konflik Rusia-Ukraina dan ekspor minyak Venezuela.

- Advertisement -

Mengutip data dari CNBC, Sabtu (3/1/2026), harga minyak mentah Brent turun tipis sebesar 10 sen dan ditutup pada level USD 60,75 per barel.

Sementara itu, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat juga turun 10 sen menjadi USD 57,32 per barel. Kondisi geopolitik menjadi salah satu faktor utama tekanan terhadap harga minyak.

Rusia dan Ukraina saling menuding melakukan serangan terhadap warga sipil pada Hari Tahun Baru, meski tengah berlangsung upaya diplomasi yang dipimpin Presiden AS Donald Trump untuk mengakhiri perang yang telah berjalan hampir empat tahun.

- Advertisement -

Kyiv diketahui meningkatkan serangan terhadap infrastruktur energi Rusia dalam beberapa bulan terakhir dengan tujuan memutus sumber pendanaan Moskow untuk kampanye militernya di Ukraina.

Selain itu, tekanan terhadap Venezuela juga menjadi sorotan pasar energi global. Pemerintahan Trump pada Rabu lalu memberlakukan sanksi terhadap empat perusahaan dan kapal tanker minyak yang dianggap terkait dengan sektor minyak Venezuela, sebagai upaya menekan Presiden Nicolas Maduro.

Di Timur Tengah, ketegangan antara produsen OPEC, Arab Saudi dan Uni Emirat Arab, terkait situasi di Yaman, semakin meningkat setelah penerbangan dihentikan di bandara Aden pada Kamis.

Ketegangan ini terjadi menjelang pertemuan virtual OPEC yang terdiri dari Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak dan sekutunyapada 4 Januari.

Para pedagang memperkirakan kelompok ini kemungkinan besar akan menunda peningkatan produksi pada kuartal pertama 2026.

Analis Sparta Commodities, June Goh, mengatakan, “Tahun 2026 akan menjadi tahun penting dalam mengevaluasi keputusan OPEC+ untuk menyeimbangkan pasokan.”

 

Goh menambahkan, pertumbuhan cadangan minyak mentah China di paruh pertama tahun ini akan menjadi penyangga harga, memberikan batas bawah terhadap pelemahan lebih lanjut.

Secara historis, tahun 2025 menjadi tahun yang berat bagi pasar minyak. Patokan harga Brent dan WTI mengalami kerugian tahunan hampir 20 persen, penurunan paling tajam sejak 2020. Penurunan ini didorong oleh kekhawatiran kelebihan pasokan yang lebih besar dibanding risiko geopolitik.

Brent juga mengalami kerugian tahun ketiga berturut-turut, mencatatkan rentetan penurunan tahunan terpanjang dalam sejarah.

Analis Energi DBS, Suvro Sarkar, memperkirakan harga minyak Brent akan relatif stagnan pada 2026.

“Untuk saat ini, kami memperkirakan tahun yang cukup membosankan untuk harga minyak Brent, berada dalam kisaran sekitar USD 60–USD 65 per barel,” ujarnya.

Dengan kondisi geopolitik yang masih fluktuatif dan ketidakpastian pasokan, pasar minyak dunia diprediksi akan tetap berhati-hati dalam menentukan arah pergerakan harga selama paruh pertama tahun ini.

- Advertisement -

BACA LAINNYA

Indonesia Pastikan Satu Tiket Final di Indonesia Masters 2026

JCCNetwork.id-Turnamen bulu tangkis Indonesia Masters 2026 memasuki babak semifinal yang digelar Sabtu (24/1/2026) di Istora Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta. Sebanyak enam wakil Indonesia akan...

BERITA TERBARU

EKONOMI

TERPOPULER