Siswa SMK Dianiaya Teman Sekelas Hingga Cedera Ginjal

BACA JUGA

OLAHRAGA

TECHNOLOGY

HIBURAN

JCCNetwork.id- Seorang siswa SMK Ananda Mitra Industri Deltamas, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, berinisial R (16), menjadi korban penganiayaan oleh teman sekelasnya, S (16), saat jam pelajaran berlangsung.

Akibat kejadian tersebut, korban mengalami luka serius pada ginjal kiri dan harus menjalani perawatan intensif di rumah sakit.

- Advertisement -

Insiden terjadi pada 13 Juni 2025 di ruang kelas sekolah tersebut. Berdasarkan keterangan kuasa hukum korban, Donny Manurung, pelaku awalnya menoyor kepala korban dengan buku.

Saat korban menolak, pelaku memukul bagian dada dan menendang perut korban menggunakan lutut.

“Menurut saya, ini cukup fatal karena berujung pada rawat inap di rumah sakit. Diagnosa dari rumah sakit menyebutkan korban mengalami hematuria akibat trauma tumpul di ginjal kiri,” kata Donny saat diwawancarai di Cikarang, Jumat (25/7/2025).

- Advertisement -

R sempat menjalani rawat jalan sejak 16 Juni, namun kondisinya memburuk hingga akhirnya dirawat secara intensif mulai 20 Juni 2025.

“Pertama ditoyor, lalu dipukul di dada, dan terakhir ditendang lutut ke perut. Efeknya baru dirasakan korban tiga hari kemudian dengan keluhan sakit di perut kiri dan urin yang berubah warna,” jelas Donny.

Upaya mediasi antara keluarga pelaku dan korban yang dilakukan pihak sekolah tidak membuahkan hasil.

Keluarga korban kemudian melaporkan kejadian ini ke Polres Metro Bekasi serta mengajukan aduan ke Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) dan Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat.

Kepala SMK Ananda Mitra Industri Deltamas, Abdul Rokib, membenarkan kejadian tersebut dan menyatakan bahwa pelaku telah mengakui perbuatannya.

“bercanda antarsiswa” yang memperparah situasi.

“Kami melihat ini bukan kejadian sekali. Klien kami mengaku sudah beberapa kali mendapat perlakuan serupa dari pelaku. Maka, langkah hukum harus diambil demi keadilan,” ujarnya.

Semula, pihak sekolah menjatuhkan sanksi skorsing, namun setelah mempertimbangkan perkembangan kasus dan hasil rapat internal, pelaku akhirnya dikeluarkan dari sekolah.

“Saat itu juga kami panggil saksi-saksi dan siswa S. Ia mengakui telah melakukan tindakan tersebut, termasuk pemukulan dan tendangan,” ungkap Rokib.

Sementara itu, korban telah mengundurkan diri dan pindah ke sekolah lain demi pemulihan fisik dan psikis.

“Keputusan ini diambil setelah rapat internal sekolah. Kami menilai tindakan pelaku sudah melampaui batas dan tak bisa ditoleransi,” tegasnya.

- Advertisement -

BACA LAINNYA

Kasus DBD di Jakarta Tembus 143

JCCNetwork.id- Jumlah kasus demam berdarah dengue (DBD) di Jakarta menunjukkan tren peningkatan pada pertengahan Januari 2026. Dinas Kesehatan (Dinkes) DKI Jakarta mencatat sebanyak 143...

BERITA TERBARU

EKONOMI

TERPOPULER