JCCNetwork.id-Harga minyak dunia kembali merosot tajam. Pada penutupan perdagangan terbaru, minyak mentah Brent anjlok US$1,55 atau setara 2,21 persen ke level US$68,64 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) milik Amerika Serikat terkoreksi lebih dalam, turun US$1,81 atau 2,65 persen menjadi US$66,57 per barel.
Penurunan ini terjadi di tengah meningkatnya kekhawatiran pasar atas dampak kebijakan tarif Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, yang dinilai dapat menghambat laju pertumbuhan ekonomi global.
Belum lama ini, Trump mengancam bakal mengenakan tarif hingga 50 persen terhadap produk ekspor asal Brasil. Ancaman tersebut langsung direspons Presiden Brasil Luiz Inácio Lula da Silva dengan menggelar rapat darurat bersama para menterinya, mengisyaratkan rencana balasan ke Washington.
Tak hanya Brasil, Trump juga memaparkan rencana pemberlakuan tarif baru untuk sejumlah komoditas strategis seperti tembaga, semikonduktor, hingga produk farmasi. Gedung Putih bahkan telah melayangkan surat peringatan kepada Filipina, Irak, serta negara-negara pemasok utama AS lainnya, termasuk Korea Selatan dan Jepang.
“Pasar saat ini cenderung menahan diri. Para investor masih wait and see karena sikap pemerintah AS yang sulit ditebak terkait kebijakan tarif,” ujar Harry Tchilinguirian, Kepala Riset Onyx Capital Group, dikutip dari Reuters, Jumat (11/7/2025).
Dari sisi kebijakan moneter, pelaku pasar juga mencermati agenda rapat Federal Reserve pada 17-18 Juni mendatang. Pasalnya, keputusan soal suku bunga acuan akan berdampak besar terhadap biaya pinjaman, yang pada gilirannya memengaruhi permintaan energi.
Sementara itu, langkah Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak dan sekutunya (OPEC+) untuk meningkatkan produksi secara signifikan pada September nanti turut membanjiri pasar dengan pasokan. Kendati demikian, OPEC+ memberi sinyal akan menahan rencana kenaikan produksi pada Oktober, seiring ekspektasi puncak permintaan minyak yang semakin dekat.



