JCCNetwork.id- Kebijakan Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi terkait perubahan jam masuk sekolah menuai beragam reaksi dari masyarakat. Salah satunya datang dari penyanyi dangdut ternama, Ayu Ting Ting, yang turut memberikan pandangannya sebagai orang tua murid.
Dedi Mulyadi diketahui telah menetapkan aturan baru yang mewajibkan siswa sekolah negeri dan swasta di seluruh wilayah Jawa Barat untuk memulai aktivitas belajar pukul 06.30 WIB. Kebijakan ini diklaim sebagai upaya meningkatkan kedisiplinan dan produktivitas pelajar sejak dini.
Menanggapi hal tersebut, Ayu Ting Ting menyatakan dirinya tidak terlalu mempermasalahkan kebijakan tersebut. Sebagai ibu dari seorang anak perempuan yang masih duduk di bangku sekolah, ia menilai bahwa kebiasaan putrinya sudah cukup sesuai dengan tuntutan aturan baru tersebut.
“Saya belum tahu untuk internasional school gimana, mungkin kalau negeri harus begitu ya dijalankan,” ujar Ayu Ting Ting di Depok, Jawa Barat, Jumat (6/6).
Putri semata wayang Ayu, Bilqis, diketahui bersekolah di lembaga pendidikan internasional yang hingga kini belum dikonfirmasi apakah akan mengikuti kebijakan serupa. Meski demikian, Ayu menyebut bahwa Bilqis sudah terbiasa berangkat sekolah lebih awal dari waktu yang ditentukan.
“Tetapi setahu saya, Bilqis masih biasa ya, dia malah enggak sampai jam setengah 8 sudah berangkat, jam 7 kurang sudah jalan,” ujarnya.
Pelantun lagu “Alamat Palsu” itu menambahkan bahwa sejak kecil, ia telah membiasakan anaknya menjalani hidup yang terorganisir dan disiplin. Salah satu aturan yang diterapkan di rumah adalah larangan menggunakan ponsel pada hari sekolah.
“Bilqis dari dulu saya terapin dari kecil di hari Senin sampai Jumat dia enggak boleh pegang handphone, kecuali libur. Anaknya juga nurut ya,” ujar Ayu.
Dengan kebiasaan yang sudah tertanam sejak dini, Ayu meyakini bahwa kebijakan jam masuk sekolah yang lebih pagi tidak akan berdampak besar terhadap aktivitas harian sang putri. Ia juga mendukung langkah pemerintah jika tujuannya adalah demi kebaikan generasi muda.
Kendati begitu, kebijakan ini sebelumnya sempat menuai pro dan kontra di kalangan masyarakat dan orang tua murid. Beberapa pihak mengkhawatirkan dampaknya terhadap kesehatan dan waktu istirahat anak-anak, terutama yang tinggal di wilayah dengan jarak tempuh jauh ke sekolah.
Belum ada pernyataan resmi apakah sekolah-sekolah internasional dan swasta akan turut diwajibkan mengikuti kebijakan tersebut secara serentak. Pemerintah Provinsi Jawa Barat disebut akan melakukan evaluasi berkala terhadap efektivitas kebijakan tersebut dalam beberapa pekan ke depan.



