135 Kardinal Bersiap Tentukan Pemimpin Gereja

BACA JUGA

OLAHRAGA

TECHNOLOGY

HIBURAN

JCCNetwork.id- ​Empat belas hari setelah wafatnya Paus Fransiskus, Gereja Katolik Roma bersiap memasuki salah satu proses paling sakral dan tertutup dalam tradisinya: konklaf, atau pemilihan Paus baru. Proses tersebut dijadwalkan akan dimulai pada Rabu, 7 Mei 2025, di Kapel Sistina, Vatikan.

Konklaf adalah sidang tertutup yang mempertemukan para Kardinal dari berbagai belahan dunia untuk memilih pemimpin baru bagi sekitar 1,3 miliar umat Katolik. Pemilihan hanya dapat diikuti oleh para Kardinal yang berusia di bawah 80 tahun, dan menurut catatan terakhir, terdapat 135 Kardinal yang memenuhi syarat tersebut.

- Advertisement -

Sesuai tradisi, tahapan menuju konklaf diawali dengan penyegelan kediaman resmi Paus yang telah wafat, yakni Istana Apostolik dan Casa Santa Marta. Tindakan tersebut menandai dimulainya masa Sede Vacante, yaitu periode ketika Tahta Suci dalam keadaan kosong.

Selama masa ini, tugas administratif dan pengesahan kematian Paus diambil alih oleh Camerlengo, atau pejabat kamar. Posisi ini saat ini dijabat oleh Kardinal Kevin Farrel. Ia bertanggung jawab mengatur logistik serta mempersiapkan segala kebutuhan konklaf sesuai dengan aturan yang telah ditetapkan dalam konstitusi apostolik.

Pemakaman Paus Fransiskus sendiri telah dilangsungkan antara hari keempat hingga hari keenam setelah wafatnya, dilanjutkan dengan masa berkabung sembilan hari yang dikenal dengan sebutan Novemdiales. Setelah masa ini berakhir, Vatikan bersiap untuk tahap krusial berikutnya: pemilihan Paus baru.

- Advertisement -

Konklaf akan dilaksanakan di Kapel Sistina, yang dikenal dengan interior lukisan dinding karya Michelangelo. Para Kardinal peserta akan dikunci dan diisolasi secara total dari dunia luar. Langkah ini diambil untuk menjaga kerahasiaan proses dan memastikan bahwa pemilihan berlangsung tanpa intervensi eksternal.

Sebelum proses pemungutan suara dimulai, seluruh Kardinal diwajibkan bersumpah untuk menjaga kerahasiaan mutlak. Pelanggaran terhadap sumpah tersebut dapat berujung pada ekskomunikasi otomatis, yaitu pencabutan hak sebagai anggota Gereja dan pengucilan dari komunitas Katolik.

Proses pemilihan dilakukan dengan menuliskan nama calon Paus pada kertas suara yang memuat frasa Latin “Eligo in Summum Pontificem Meum” yang berarti “Saya memilih Pemimpin Tertinggiku.” Surat suara kemudian dimasukkan ke dalam wadah khusus dan dihitung oleh tiga Kardinal yang bertugas sebagai pengawas.

Jika tidak ada kandidat yang memperoleh dua pertiga suara, surat suara dijahit dan dibakar. Asap yang mengepul dari cerobong Kapel Sistina menjadi tanda bagi publik: asap hitam berarti belum ada Paus yang terpilih, sementara asap putih menandakan telah terpilihnya pemimpin baru Gereja Katolik.

Begitu Paus terpilih menerima tugasnya, lonceng besar Basilika Santo Petrus akan berdentang. Pengumuman resmi kemudian disampaikan kepada dunia dari balkon Basilika oleh Kardinal Protodiakon dengan pernyataan “Habemus Papam” — “Kita memiliki seorang Paus.”

Konklaf ini menjadi momen penting dalam sejarah Gereja, mengingat peran sentral Paus sebagai pemimpin spiritual umat Katolik sedunia sekaligus kepala negara Vatikan. Paus pengganti Fransiskus nantinya akan menghadapi tantangan besar, mulai dari krisis kepercayaan, modernisasi Gereja, hingga hubungan antaragama.

- Advertisement -

BACA LAINNYA

Kendaraan Wisata Padati Puncak

JCCNetwork.id- Arus lalu lintas wisata di kawasan Puncak, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, terpantau ramai namun masih terkendali pada Sabtu (17/1/2026) pagi. Kendaraan dari arah...

BERITA TERBARU

EKONOMI

TERPOPULER