JCCNetwork.id-Harga emas dunia mengalami penurunan signifikan pada awal pekan ini, tepatnya Senin (7/4/2025) waktu Amerika Serikat. Logam mulia yang selama ini dikenal sebagai aset aman (safe haven) itu harus mencatat penurunan lebih dari dua persen, seiring peralihan investor ke dolar AS dan mata uang aman lainnya di tengah meningkatnya kekhawatiran global akan bayang-bayang resesi akibat kebijakan proteksionis yang kembali digaungkan Donald Trump.
Berdasarkan data perdagangan pada pukul 13.36 waktu setempat, harga emas spot jatuh sebesar 2,4 persen ke level US$ 2.963,19 per ons atau setara sekitar Rp 49 juta, setelah sebelumnya sempat menyentuh titik terendah dalam hampir empat pekan di posisi US$ 2.955,89 per ons. Di sisi lain, harga emas berjangka AS juga tidak mampu bertahan dan ditutup melemah 2 persen ke level US$ 2.973,60 per ons.
Analis pasar Nikos Tzabouras menyebut bahwa penurunan ini merupakan reaksi spontan pasar terhadap gejolak ekonomi dan kebijakan internasional terbaru. “Penurunan harga emas dunia dipicu oleh peralihan investor ke uang tunai dan aset safe haven seperti Franc Swiss dan Yen Jepang. Ini menandai potensi koreksi lebih dalam,” ujarnya dalam sebuah pernyataan yang dikutip media.
Kekuatan dolar AS menjadi salah satu katalis utama di balik kemerosotan harga emas kali ini. Dolar tercatat menguat terhadap sebagian besar mata uang utama lainnya, menjauh dari titik terendah enam bulan yang sempat disentuh pekan lalu. Kuatnya dolar membuat emas menjadi lebih mahal bagi pemegang mata uang lain, yang otomatis menekan permintaan logam kuning tersebut di pasar global.
Kepala Strategi Komoditas di TD Securities, Bart Melek, menjelaskan bahwa bukan hanya pergerakan dolar yang memberikan tekanan pada harga emas, namun juga aktivitas spekulatif di pasar. “Ada tekanan tambahan dari para spekulan yang mulai menutup posisi akibat gejolak pasar dan likuiditas yang semakin terbatas,” jelas Melek.
Situasi menjadi semakin rumit setelah Donald Trump, mantan Presiden AS yang digadang-gadang akan maju kembali dalam Pilpres 2024, menyuarakan niatnya untuk menerapkan tarif baru hingga 50 persen terhadap barang-barang asal China. Pernyataan tersebut langsung mengguncang pasar global yang sudah rapuh oleh ketidakpastian ekonomi dan ketegangan geopolitik.
Trump menyatakan bahwa tarif baru itu akan diberlakukan jika China tidak mencabut kebijakan tarif balasan terhadap AS. Sementara itu, Gedung Putih buru-buru membantah rumor bahwa pemerintahan Trump akan menangguhkan tarif impor selama 90 hari untuk semua negara kecuali China. “Itu adalah berita palsu,” tegas pernyataan resmi Gedung Putih.
Di tengah ketidakpastian ini, pasar keuangan kini menaruh perhatian penuh pada langkah Federal Reserve (The Fed). Kontrak berjangka mencerminkan ekspektasi penurunan suku bunga sebesar sekitar 120 basis poin hingga akhir tahun, dengan peluang sebesar 37 persen bahwa penurunan pertama akan dilakukan pada bulan Mei mendatang.
Penurunan suku bunga sejatinya bisa menjadi angin segar bagi emas, karena logam mulia ini tidak memberikan imbal hasil bunga dan biasanya menjadi alternatif menarik ketika suku bunga turun dan risiko ekonomi meningkat. Namun, dalam situasi saat ini, investor justru cenderung memilih likuiditas dan mata uang aman.
Meski mengalami koreksi tajam, perlu dicatat bahwa harga emas dunia masih berada di level tinggi secara historis. Pada Kamis pekan lalu, harga emas sempat menembus rekor tertinggi sepanjang masa di angka US$ 3.167,57 per ons, didorong oleh permintaan tinggi dari bank sentral global serta meningkatnya minat terhadap aset safe haven di tengah ketegangan geopolitik yang semakin intens.
Pasar tampaknya masih dihantui oleh kekhawatiran perlambatan ekonomi global, lonjakan inflasi, serta eskalasi ketegangan dagang antara dua kekuatan ekonomi utama dunia: Amerika Serikat dan China.
Di luar emas, logam mulia lainnya juga menunjukkan pergerakan yang bervariasi. Harga perak spot naik tipis sebesar 0,5 persen menjadi US$ 29,71 per ons, meskipun sebelumnya sempat menyentuh titik terendah dalam tujuh bulan terakhir. Di sisi lain, platinum spot mencatat pelemahan sebesar 1 persen ke level US$ 907,09 per ons, sementara palladium turun 0,9 persen menjadi US$ 903,19 per ons.
Kendati volatilitas tinggi masih membayangi pergerakan harga logam mulia, sejumlah analis meyakini bahwa prospek jangka panjang harga emas tetap positif. Ketidakpastian global, kebijakan moneter yang akomodatif, dan meningkatnya permintaan dari sektor institusi seperti bank sentral menjadi fondasi kuat bagi potensi kenaikan harga emas dalam jangka menengah hingga panjang.
Dengan pasar global yang terus bergejolak dan belum ada tanda-tanda stabilisasi dalam waktu dekat, emas diprediksi akan tetap menjadi instrumen penting dalam strategi lindung nilai bagi para investor yang mencari perlindungan dari turbulensi ekonomi dan geopolitik yang kian memanas.



