Ekonomi Indonesia Berpotensi Pulih Cepat

BACA JUGA

OLAHRAGA

TECHNOLOGY

HIBURAN

JCCNetwork.id-Kepala Riset Bahana Sekuritas, Satria Sambijantoro, menilai bahwa ekonomi Indonesia cukup tahan terhadap guncangan dari perdagangan global.

Menurutnya, meskipun pasar saham mengalami penurunan, prospek pemulihan ekonomi domestik dapat terjadi dengan bentuk kurva V, didorong oleh masuknya likuiditas global ke pasar Indonesia.

- Advertisement -

Dalam laporan riset yang diterima di Jakarta, Selasa (8/4), Satria mengungkapkan bahwa meski Exchange-Traded Fund (ETF) ekuitas Indonesia mengalami penurunan hingga 10 persen dalam sepekan terakhir, pasar saham Indonesia kemungkinan akan menghadapi pemulihan saat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali dibuka setelah libur panjang Idulfitri.

“Namun, ada kemungkinan pembeli institusional asing dan lokal akan muncul, dengan tingkat cash yang sudah tinggi karena penjualan ekuitas telah meningkat sebelum liburan panjang Idulfitri,” ujar Satria dalam laporan risetnya di Jakarta, Selasa.

Satria juga mengungkapkan bahwa ekspor Indonesia ke Amerika Serikat (AS) hanya mencakup 2 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB), yang merupakan salah satu paparan perdagangan terkecil di Asia Tenggara.

- Advertisement -

Di sisi lain, tarif impor AS yang dikenakan pada produk Indonesia tetap berada pada tingkat yang lebih rendah dibandingkan dengan negara pesaing seperti Bangladesh, Kamboja, Tiongkok, Sri Lanka, dan Vietnam.

“Mengingat paparan perdagangan yang minimal, Indonesia sebenarnya berada di zona “Goldilocks” di tengah harga minyak yang lebih rendah, penurunan suku bunga global, dan latar belakang makro di dalam negeri,” tuturnya.

Dia juga menyoroti bahwa dalam beberapa hari terakhir, pasar ekuitas di negara-negara yang sangat terpapar pada perdagangan global seperti Hong Kong, Jepang, dan Singapura, mengalami penurunan yang tajam, sementara di pasar negara berkembang seperti India dan Malaysia, penurunannya lebih terkendali, kurang dari 8 persen.

Satria menambahkan bahwa depresiasi rupiah yang terjadi dalam enam bulan terakhir, dengan nilai tukar yang kini mencapai Rp17.000 per dolar AS, justru dapat memberikan keuntungan bagi daya saing ekspor Indonesia, khususnya manufaktur ke AS.

Hal ini juga akan meningkatkan daya tarik bagi investor asing untuk berinvestasi di pasar saham dan obligasi Indonesia.

“Kami pikir mata uang yang dinilai rendah dapat meningkatkan daya saing ekspor manufaktur Indonesia ke AS dan daya tarik ekuitas dan obligasi di kalangan investor asing,” kata Satria.

Lebih lanjut, Satria memprediksi bahwa dampak dari tarif AS yang baru tidak akan terlalu besar terhadap laba perusahaan Indonesia yang telah berada pada level rendah untuk estimasi tahun 2025.

Ia bahkan melihat potensi dampak positif terhadap margin perusahaan Indonesia, mengingat penurunan harga minyak sebesar 15 persen yang akan mengurangi biaya produksi.

“Pandangan kami adalah kapitulasi Presiden Donald Trump akan terjadi lebih cepat daripada yang diperkirakan; sedikit saja tanda-tandanya akan memicu pemulihan pasar yang akan lebih dahsyat daripada tahun 2020,” katanya.

- Advertisement -

BACA LAINNYA

Trump Batalkan Serangan ke Iran

JCCNetwork.id- Presiden Amerika Serikat Donald Trump membatalkan rencana serangan militer terhadap Iran yang semula dijadwalkan berlangsung pada Kamis malam, 11 Juni 2026. Keputusan tersebut diambil...

BERITA TERBARU

EKONOMI

TERPOPULER