JCCNetwork.id- Kekeringan yang melanda Kabupaten Jepara, Jawa Tengah, semakin hari semakin mengkhawatirkan. Ribuan warga di berbagai desa di wilayah ini mulai merasakan dampaknya dengan semakin sulitnya mendapatkan air bersih. Kondisi ini memaksa pihak berwenang untuk segera melakukan distribusi air bersih ke sejumlah desa yang paling terdampak.
Muh Ali Wibowo, Kepala Seksi Rehabilitasi dan Rekonstruksi Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jepara, menjelaskan bahwa pihaknya telah memulai langkah tanggap darurat dengan mendistribusikan air bersih ke empat desa yang mengalami krisis air.
“Kita sudah dropping air ke empat desa yang ada di Jepara. Kemarin hari Jumat dropping di dua tempat yakni desa Kaliombo Kecamatan Kedung dan Kunir Kecamatan Keling,” kata Bowo di Jepara, Sabtu, 31 Agustus 2024.
Menurut Bowo, distribusi air bersih ini akan dilakukan secara rutin dua kali dalam seminggu. Setiap pengiriman, BPBD Jepara menyediakan dua tangki air bersih dengan total kapasitas 10 ribu liter untuk memenuhi kebutuhan warga yang terdampak.
Bowo memaparkan bahwa ribuan jiwa di beberapa desa mengalami kesulitan air bersih. Di Kecamatan Donorojo, Desa Clering menjadi salah satu desa dengan jumlah warga terdampak terbesar, yakni sebanyak 1.969 jiwa. Sementara itu, Desa Sumberrejo di kecamatan yang sama mencatatkan 740 jiwa terdampak. Di Kecamatan Keling, Desa Kunir tercatat ada 365 jiwa yang mengalami kesulitan air, sementara di Desa Kaliombo, Kecamatan Pecangaan, ada 1.219 jiwa yang juga membutuhkan bantuan air bersih.
“Sebetulnya ada Desa Tengguli yang by phone meminta bantuan dropping air bersih. Ini masih dalam tahap proses administratif untuk selanjutnya akan dilakukan dropping,” papar dia.
Bowo memperkirakan bahwa kekeringan ini akan berlangsung hingga bulan Oktober, dan untuk sementara waktu, pendistribusian air bersih masih akan menggunakan dana dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) yang dialokasikan sekitar 30 juta rupiah.
“Dropping air saat ini masih menggunakan dana APBD sekitar 30 juta. Kekeringan saat ini diprediksi akan berada di puncaknya pada September hingga Oktober,” kata Bowo.
Lebih lanjut, Bowo juga menambahkan bahwa beberapa sumur yang dibuat oleh berbagai instansi di wilayah tersebut belum mampu berfungsi secara optimal selama musim kemarau. Ini menambah berat tantangan dalam mengatasi krisis air bersih yang melanda wilayah Jepara. Upaya penanggulangan pun masih terus dilakukan guna memastikan kebutuhan air bersih warga dapat terpenuhi selama masa kekeringan ini.



