Kondisi yang paling mencolok terjadi di Nusa Tenggara Timur (NTT), di mana harga gerabah telah melonjak hingga mencapai Rp 7.500 per unit.
Jika harga gerabah tersebut dikonversi ke harga beras, maka nilainya bisa mencapai dua kali lipat, yang berarti harga beras di daerah tersebut sudah berada di atas Harga Eceran Tertinggi (HET) untuk beras premium.
Ini menandakan bahwa situasi di lapangan semakin sulit, terutama bagi masyarakat yang bergantung pada beras sebagai kebutuhan pokok sehari-hari.
Khudori juga mengungkapkan bahwa kenaikan harga beras ini disebabkan oleh produksi beras yang menurun dibandingkan tahun sebelumnya.
Data menunjukkan bahwa produksi beras dari Januari hingga September tahun ini diperkirakan hanya mencapai 24,37 juta ton.
Lebih rendah sekitar 1,8 juta ton dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu.
Penurunan produksi ini jelas berdampak pada surplus beras yang juga mengalami penurunan signifikan.



