Balita Tewas Diduga Akibat Dianiaya Orang Tua di Kediri

BACA JUGA

OLAHRAGA

TECHNOLOGY

HIBURAN

JCCNetwork.id-Kejadian tragis mengguncang Desa Tugurejo, Kecamatan Ngasem, Kabupaten Kediri, dengan ditemukannya jasad seorang balita berusia tiga tahun yang diduga menjadi korban penganiayaan yang fatal oleh orang tuanya sendiri.

Polisi dari Resor Kediri tengah mengusut tuntas kasus ini setelah menerima laporan dari kakek korban, Suyono, yang mengungkapkan kecurigaannya atas kematian cucunya.

- Advertisement -

Menurut Kepala Satuan Reserse dan Kriminal Polres Kediri, AKP Fauzy Pratama, korban, yang identitasnya disamarkan sebagai AF, diketahui meninggal akibat luka serius di kepala dan tubuhnya, menyiratkan adanya kekerasan fisik yang tidak manusiawi.

Polisi mulai menggali informasi dari Suyono, yang tinggal di Nganjuk sementara keluarga korban berada di Desa Tugurejo. Orang tua AF, TA dan NO, baru-baru ini menikah dan membawa AF ke rumah baru mereka pada bulan Februari 2024.

“Kami masih selidiki kasus ini. Ada luka di bagian kepala, badan, namun untuk detailnya belum,” kata Kepala Satuan Reserse dan Kriminal Polres Kediri AKP Fauzy Pratama di Kediri.

- Advertisement -

Peristiwa tragis ini terungkap ketika TA dan NO datang ke Nganjuk tanpa membawa AF dan mengklaim bahwa anak mereka telah meninggal dunia pada tanggal 22 Juni, yang kemudian dikuburkan di sekitar tempat tinggal mereka.

Kakek korban, setelah mendengar laporan ini, segera melapor kepada pihak desa dan polisi di Kediri. Polisi kemudian melakukan pencarian makam AF dan menemukannya, serta melakukan pemeriksaan awal terhadap jenazah yang menunjukkan tanda-tanda kekerasan fisik yang mengkhawatirkan.

AKP Fauzy menambahkan bahwa kedua orang tua korban telah ditahan sebagai tersangka dalam kasus ini, dengan keterangan bahwa mereka mengakui melakukan kekerasan terhadap AF sebagai bentuk kekecewaan terhadap perilaku anak tersebut. Mereka dikatakan telah menguburkan AF setelah meyakini bahwa anak tersebut telah meninggal, meskipun upaya pertolongan pertama telah dilakukan sebelumnya.

“Setelah pelaku ambil kesimpulan anak tidak bernyawa, dilakukan tindakan untuk menguburkan,” ujar dia.

“Dua-duanya ada peran masing-masing. Untuk skala mana yang menyebabkan kematian korban, kami belum tahu,” kata dia.

Di sisi lain, Suyono, kakek korban, mengungkapkan kesedihannya atas kehilangan cucunya dan memohon agar polisi mengizinkannya untuk membawa jenazah AF kembali ke Nganjuk untuk dimakamkan dengan layak. Hingga saat ini, polisi terus memeriksa kedua orang tua korban untuk mendapatkan klarifikasi lebih lanjut mengenai kronologi dan motif di balik perbuatan mereka.

“Keluarga mau membawa ke Nganjuk. Penting saya bawa pulang,” kata Suyono.

Lokasi pemakaman awal AF telah dipasangi garis polisi untuk penyelidikan lebih lanjut, sementara jenazah korban masih disimpan di RS Bhayangkara Kediri untuk proses autopsi lebih lanjut.

- Advertisement -

BACA LAINNYA

Warga Satu Kota Berhalusinasi, Gegara Teror Roti Beracun

JCCNetwork.id- Bayangkan sebuah kota kecil yang tenang di Prancis Selatan. Tanggal 15 Agustus 1951, warga Pont-Saint-Esprit menjalani hari seperti biasa. Mereka membeli roti hangat...

BERITA TERBARU

EKONOMI

TERPOPULER