JCCNetwork.id – Jerry Massie, Pakar Politik dari American Global University, mengungkapkan ketidakpercayaannya terhadap laporan rekening khusus dana kampanye (RKDK) Anies Baswedan-Muhaimin Iskandar atau Cak Imin (AMIN) yang hanya mencapai Rp1 miliar.
Menurutnya, biaya tersebut tidak mencukupi untuk perjalanan kampanye, dengan prediksi total dana mencapai lebih dari Rp100 miliar.
“Saya nggak percaya, dana kampanye cuma Rp1 miliar. Nggak mungkin, dan tidak pernah mungkin itu, mereka kampanye di satu daerah, semua itu dibiayai oleh daerah tersebut kan nggak mungkin. Paling mentok itu, mereka menghabiskan di atas Rp100 miliar lah,” kata Jerry.
Selain itu, Anies disebut-sebut sebagai “The Golden Boys” dari Amerika Serikat, terkait kunjungan Duta Besar AS Sung Yong Kim ke DPP Partai Keadilan Sejahtera. Massie melihatnya sebagai upaya membuka kerja sama antara Indonesia dan AS, melihat peluang dari pencalonan Anies sebagai presiden.
Dalam konteks temuan aliran dana asing oleh PPATK, Massie menekankan perlunya penyelidikan tanpa dugaan-dugaan. Dia mendesak Bawaslu untuk menelusuri dan PPATK untuk mempublikasikan penyumbang dan jumlah sumbangan, sambil menyatakan perlunya revisi terhadap anggaran asing yang masuk.
Jerry juga menyoroti risiko kepentingan asing yang dapat membahayakan pemerintahan Indonesia dan mengingatkan agar dana asing tidak boleh masuk saat pemilu. Dia menekankan pentingnya pengawasan ketat oleh penyelenggara dan pengawas pemilu, dengan saran untuk memblokir akses uang asing yang tidak dapat dijelaskan sumbernya.
“Iya, nanti mereka akan menguasai sumber daya alam kita. Nah, itu lah kalau memang seorang capres tidak punya logistik untuk maju, nanti di situ, beratnya di situ. Mereka punya kepentingan di dalam negeri, ingin menguasai. Nah, ini yang dicari oleh bangsa lain. Jadi, kalau buat saya ini sangat berbahaya sekali,” tutupnya.























