JCCNetwork.id- Direktur Deradikalisasi Badan Nasional Penanggulangan Terorisme Republik Indonesia (BNPT RI), Brigjen Pol R Achmad Nur Wahid, mengatakan sesuai pernyataan penting Majelis Ulama Indonesia (MUI) menyatakan bahwa orang yang meninggal akibat terpapar virus COVID-19 dianggap syahid dan masuk surga. Namun, jika seseorang meninggal akibat terpapar virus ideologi radikal, kematian tersebut tidak dianggap syahid, melainkan masuk neraka. Jadi lebih berbahaya virus radikal dibandingkan dengan virus COVID-19.
“Tetapi kalau orang meninggal terpapar virus ideologi radikal matinya bukan sahid tapi sangit masuk neraka kata ulama begitu, lebih bahaya mana?,” kata Nur Wahid dalam Podcast JCCNetwork.
Brigjen Achmad Nur Wahid, yang juga akrab disapa Gus Jenderal ini juga menyatakan bahwa meskipun terpapar virus COVID-19 dapat merugikan individu tersebut, namun dampaknya hanya terbatas pada diri sendiri. Sebaliknya, terpapar virus radikal tidak hanya merugikan individu itu sendiri, tetapi juga berpotensi untuk memengaruhi orang lain, sehingga menggambarkan tingkat bahayanya yang lebih tinggi.
“Dan inilah yang memunculkan konflik di berbagai negara virus radikal ini,” tambah Gus Jenderal.
Menurut Gus Jenderal, untuk penanggulangan radikalisme dilakukan melalui ekspresif low infostman dengan bantuan Densus 88 di tingkat operasional. Lalu tingkat strategis, kesiapsiagaan nasional juga diintensifkan yakni dengan ‘vaksinasi’ ideologi, agar masyarakat menjadi imun terhadap pengaruh radikal.
‘Vaksinasi’ ideologi, dalam arti memberikan kesadaran ideologis yang kuat, dalam hal memahami bahwa Pancasila bukanlah agama dan tidak menggantikan agama. Namun, Pancasila sebagai dasar negara yang menyatukan bangsa Indonesia yang plural. Mengingat nilai-nilai dalam ideologi Pancasila diambil dari nilai-nilai luhur agama dan budaya Nusantara, sehingga menciptakan keselarasan yang kohesif.
“Karena ini virus ideologi supaya masyarakat ini simoderat itu yang muncul potensi radikalnya tidak ada maka perlu divaksin, yaitu vaksinasi ideologi sehingga imun. Siaga ideologi benar benar masyarakat imun terhadap ideologi ideologi radikalisme,” tutup Gus Jenderal.



