JCCNetwork.id- Ratusan Relawan Ganjar Mahfud dan aktivis dari berbagai jaringan menggelar aksi solidaritas untuk korban kekerasan Boyolali dan Sleman, di Rumah Aspirasi Ganjar Mahfud Presiden 2024, Menteng, Jakarta Pusat, Jumat, 5/01/2024.
Acara dengan tajuk ‘Sejuta Lilin untuk Kemanusiaan’, merupakan aksi simpati dan juga protes atas tindakan kekerasan yang dialami oleh relawan Ganjar Mahfud, dalam acara tersebut terlihat relawan yang datang mengikatkan pita hitam dilengan kiri sebagai bentuk duka dan Solidaritas.
” Rakyat kembali menjadi korban kebrutalan atas warisan tindakan yang tidak manusiawi yang terjadi akhir-akhir ini, peristiwa Sleman dan Boyolali memperlihatkan bagaimana sejarah telah bicara adanya kebiadaban Oknum-oknum yang disetting untuk memuaskan hasrat kekuasaan”, Seru seorang Relawan dalam orasinya.
Aktivis sekaligus mantan Sekjend Partai Rakyat Demokratik (PRD) Petrus Hariyanto turut hadir dan memberikan orasinya di acara tersebut, dirinya mengatakan miris dengan Budiman Sudjatmiko yang saat ini bergabung dengan Prabowo, menurutnya banyak kasus kekerasan Hak Asasi Manusia (HAM) yang sampai saat ini belum terselesaikan.
“Hari ini saya bicara tentang penghianatan aktivis 98 yang hari ini mendukung dan membela Prabowo Subianto, selama 25 tahun lebih saya bersama temen-temen penggiat Ham, menyuarakan tentang hilangnya 13 teman kami sampai saat ini belum diketemukan”, kata Petrus.

Selain diisi orasi pihak panitia acara melakukan video call dengan orang tua korban meninggal di Sleman dan korban kekerasan relawan Ganjar Mahfud di Boyolali, dalam video call tersebut Ibu korban yang meninggal tidak memberikan keterangan apapun sementara korban kekerasan dari Boyolali menyampaikan kronologi kejadian insiden tersebut.
“Kejadiannya begitu cepat, ketika kami melintas tiba-tiba kami diberhentikan dan dipukuli secara membabi-buta, saya lupa, tau-tau saya sudah di rumah sakit”, kata korban kekerasan dalam sesi video call.
Menjelang akhir acara panitia acara melakukan penggalangan dana untuk membantu korban, lalu dengan melakukan doa bersama dan menyalakan lilin sebagai bentuk protes atas aksi kekerasan.
“Nama korban yang meninggal namanya akan terus dicatat dalam sejarah perjuangan dengan tinta emas, aksi ini sebagai bentuk Solidaritas kami, kami tidak akan membalas kekerasan dengan kekerasan tapi kami akan memenangkan Ganjar Mahfud di 14 Februari mendatang”, kata orator dalam aksi tersebut.












