JCCNetwork.id- Nilai tukar rupiah mengalami pelemahan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada hari ini, Selasa (10/10/2023). Pada pukul 12.10 WIB, rupiah berada di level Rp 15.718 per dolar AS, mengalami penurunan sebanyak 26 poin atau 0,17% perbandingannya dengan perdagangan sebelumnya, demikian data Bloomberg.
Pelemahan ini seiring dengan pergerakan mata uang lainnya, yakni yen Jepang yang juga melemah.
Salah satu faktor yang mempengaruhi pelemahan rupiah adalah serangan roket Hamas Palestina terhadap Israel, yang menyebabkan kekhawatiran di pasar dan mendorong investor mencari aset safe haven seperti dolar atau emas.
Selain itu, data tenaga kerja AS non farm payrolls (NFP) untuk September 2023 yang melebihi perkiraan, yakni sebanyak 336.000 pekerjaan dibandingkan dengan ekspektasi sebelumnya sebesar 171.000, juga memengaruhi pelemahan rupiah. Ini menunjukkan tanda-tanda ketatnya pasar tenaga kerja AS, yang dapat berdampak pada kebijakan suku bunga The Federal Reserve.
Pergerakan nilai tukar rupiah sangat sensitif terhadap kinerja Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2023. Pelemahan rupiah dapat berdampak pada penerimaan dan pengeluaran APBN. Meskipun pelemahan rupiah dapat meningkatkan pendapatan negara dari sisi bea ekspor, namun juga meningkatkan beban bunga utang pemerintah ke luar negeri, yang berpotensi meningkatkan defisit APBN.
Penting untuk dicatat bahwa asumsi nilai tukar rupiah dalam APBN 2023 sebesar Rp 14.800 per dolar AS jauh dari kondisi saat ini, yang telah mencapai sekitar Rp 15.700 per dolar AS. Nilai tukar rupiah ini memiliki kaitan dengan sejumlah faktor makroekonomi lainnya, termasuk pertumbuhan ekonomi, inflasi, dan harga minyak mentah dunia.
























