JCCNetwork.id- Harga minyak mentah dunia turun pada perdagangan Selasa (27/10/2026) seiring meningkatnya upaya diplomasi sejumlah negara untuk meredakan ketegangan di Timur Tengah.
Mengutip Investing pada Rabu (28/10/2026), harga minyak Brent untuk pengiriman Desember 2026 melemah 1,7 persen menjadi USD113,82 per barel, sedangkan West Texas Intermediate (WTI) turun 2 persen ke USD99,78 per barel.
Penurunan ini terjadi setelah harga minyak sebelumnya melonjak akibat kekhawatiran terhadap konflik yang melibatkan kelompok Houthi, Iran, pemerintah Yaman, dan Arab Saudi, serta ancaman terhadap jalur distribusi energi, termasuk Selat Hormuz dan Selat Bab el-Mandeb. Harapan meredanya konflik menguat setelah Iran menggelar pertemuan dengan Pakistan, Arab Saudi, dan Turki untuk membahas keamanan regional, sementara Qatar juga dilaporkan menjalin komunikasi dengan Teheran guna mencegah eskalasi.
Meski demikian, ketegangan Amerika Serikat dan Iran masih membayangi pasar karena Washington membuka kemungkinan serangan militer tambahan, sedangkan Teheran meminta penghentian blokade dan pencabutan sanksi. Risiko semakin besar menyusul laporan operasi militer di sekitar Selat Bab el-Mandeb serta klaim Houthi mengenai serangan terhadap Kilang Minyak Ras Tanura di Arab Saudi. Direktur Eksekutif Badan Energi Internasional (IEA), Fatih Birol, juga memperingatkan bahwa pasar energi kemungkinan belum kembali ke kondisi sebelum perang pada 2027.
Di tengah ketidakpastian tersebut, Saudi Aramco berencana mulai menyimpan minyak mentah di Singapura pada paruh kedua 2027 untuk memperkuat ketahanan pasokan regional. Dengan demikian, penurunan harga minyak saat ini lebih mencerminkan meredanya kekhawatiran jangka pendek berkat diplomasi, sementara ancaman terhadap jalur pelayaran, infrastruktur energi, dan hubungan AS-Iran masih berpotensi memicu volatilitas harga minyak dunia.
























