JCCNetwork.id- Ketua Pemuda DPP Pernusa, M. Jodi Husein, menilai Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka berpeluang memiliki daya tawar politik yang kuat menjelang Pemilihan Umum (Pemilu) 2029. Menurutnya, besarnya proporsi pemilih generasi Z, pengaruh politik Presiden ke-7 RI Joko Widodo yang dinilai masih kuat di akar rumput, serta soliditas relawan Jokowi dan Gibran menjadi sejumlah faktor yang dapat memengaruhi peta politik nasional mendatang.
Jodi menyoroti data yang menyebut sekitar 57 persen pemilih pada Pemilu 2029 berasal dari kalangan Gen Z. Menurutnya, karakter generasi muda yang akrab dengan dunia digital, teknologi, dan perkembangan informasi berpotensi menjadi salah satu faktor yang menguntungkan Gibran dalam membangun dukungan politik.
“Pemilu 2029 bukan hanya soal siapa yang paling kuat di panggung politik, tetapi juga siapa yang mampu merebut perhatian dan kepercayaan generasi muda. Gen Z bisa menjadi penentu arah politik Indonesia ke depan,” ujar Jodi dalam pandangannya mengenai peluang politik Gibran.
Ia menilai kedekatan Gibran dengan perkembangan teknologi dan ekosistem digital berpotensi menjadi modal untuk menarik simpati pemilih muda. Namun, besarnya peluang tersebut tetap akan bergantung pada kemampuan Gibran membangun komunikasi politik, menunjukkan kinerja, serta menjawab harapan masyarakat, khususnya generasi muda.
Jodi juga berpandangan bahwa polemik terkait putusan Mahkamah Konstitusi (MK) tidak serta-merta menutup peluang politik Gibran pada 2029. Ia justru meyakini bahwa dinamika tersebut tidak otomatis melemahkan posisi politik Wakil Presiden tersebut.
“Putusan MK tidak serta-merta menjadi tembok penghalang bagi perjalanan politik Gibran. Politik selalu bergerak dinamis, dan yang menentukan ke depan adalah bagaimana ia menjaga kepercayaan publik serta membangun dukungan nyata di masyarakat,” tegasnya.
Selain faktor Gen Z, Jodi menilai pengaruh politik Jokowi masih memiliki peran penting dalam peta politik nasional. Ia berpandangan bahwa jaringan pendukung Jokowi maupun relawan Gibran masih cukup solid dan berpotensi menjadi kekuatan politik yang diperhitungkan menjelang kontestasi 2029.
Menurutnya, keberadaan jaringan relawan di tingkat akar rumput dapat menjadi modal untuk mempertahankan pengaruh sekaligus memperluas dukungan politik. Meski demikian, soliditas relawan dan besarnya pengaruh Jokowi tetap perlu diuji melalui perkembangan politik serta respons masyarakat dalam beberapa tahun mendatang.
Jodi juga menilai Partai Solidaritas Indonesia (PSI) memiliki peluang untuk menembus parlemen pada Pemilu 2029, bahkan berpotensi meraih suara di atas ambang batas parlemen (parliamentary threshold). Peluang tersebut, menurutnya, berkaitan dengan dinamika dukungan politik, kekuatan jaringan relawan, serta kemampuan partai menjangkau pemilih muda.
“Jangan buru-buru menganggap peta politik 2029 sudah terkunci. Ketika Gen Z menjadi kekuatan pemilih yang besar, pengaruh Jokowi masih diperhitungkan, dan relawan tetap bergerak, peluang politik bisa berubah. PSI pun punya ruang untuk memperjuangkan tiket menuju parlemen,” ungkapnya.
Meski demikian, peluang Gibran memperkuat posisi politiknya dan kemungkinan PSI lolos ke parlemen masih bergantung pada banyak faktor, mulai dari kinerja pemerintahan, dinamika koalisi, strategi partai, hingga pilihan pemilih di bilik suara.
Jodi menegaskan, kombinasi besarnya pemilih muda, pengaruh Jokowi di akar rumput, dan jaringan relawan yang dinilai masih solid dapat menjadi modal politik penting bagi Gibran menuju 2029. Namun, kekuatan tersebut pada akhirnya harus dibuktikan melalui dukungan publik yang nyata dalam kontestasi elektoral mendatang.
























