Harga Emas Dunia Melonjak, Dolar AS Tertekan

BACA JUGA

OLAHRAGA

TECHNOLOGY

HIBURAN

Lisa Umumkan EP Solo Terbaru

Ruben Onsu Terseret Kasus Investasi

Sarwendah Minta Peran Ruben

JCCNetwork.id- Harga emas dunia ditutup menguat pada perdagangan Kamis (30/7/2026) waktu setempat, didorong oleh pelemahan dolar Amerika Serikat (AS) serta data inflasi Negeri Paman Sam yang menunjukkan perlambatan. Meski demikian, laju kenaikan logam mulia masih dibayangi ketidakpastian arah kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed) dan meningkatnya tensi geopolitik di kawasan Timur Tengah.

Berdasarkan data perdagangan internasional pada Jumat (31/7/2026), harga emas spot melonjak 1,2 persen menjadi USD4.113,45 per troy ons. Sementara itu, kontrak emas berjangka juga mencatat kenaikan lebih tinggi, yakni 1,9 persen ke level USD4.113,30 per troy ons.

- Advertisement -

Penguatan harga emas terjadi seiring melemahnya nilai tukar dolar AS yang berada di jalur penurunan terbesar sejak April 2025. Kondisi tersebut dipicu oleh penguatan yen Jepang dan meningkatnya keraguan pelaku pasar terhadap efektivitas langkah Federal Reserve dalam mengendalikan inflasi di Amerika Serikat.

Pelemahan dolar menjadi sentimen positif bagi emas karena membuat logam mulia tersebut lebih murah bagi investor yang menggunakan mata uang selain dolar. Situasi itu mendorong peningkatan permintaan dan memperkuat posisi emas sebagai salah satu instrumen investasi yang diminati di tengah ketidakpastian ekonomi.

Selain faktor nilai tukar, perhatian investor juga tertuju pada rilis data inflasi terbaru dari Amerika Serikat. Biro Analisis Ekonomi Amerika Serikat (BEA) melaporkan bahwa indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi inti (Core Personal Consumption Expenditures/Core PCE) naik 0,1 persen secara bulanan pada Juni atau lebih rendah dari perkiraan pasar sebesar 0,2 persen.

- Advertisement -

Secara tahunan, inflasi inti tercatat meningkat 3,3 persen, sedangkan indeks PCE utama justru mengalami penurunan 0,1 persen secara bulanan, menjadi kontraksi pertama sejak April 2020. Untuk tingkat tahunan, inflasi PCE utama berada di 3,7 persen, sesuai dengan ekspektasi pasar.

Data tersebut memperkuat pandangan bahwa tekanan inflasi mulai menunjukkan tanda-tanda melambat, meskipun belum cukup kuat untuk memastikan perubahan arah kebijakan moneter The Fed dalam waktu dekat.

Di sisi lain, investor masih mencerna hasil rapat Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) yang memutuskan mempertahankan suku bunga acuan pada pertemuan 29 Juli 2026. Keputusan tersebut diambil di tengah perbedaan pandangan di internal bank sentral AS.

Tiga pejabat Federal Reserve, yakni Presiden The Fed Cleveland Beth Hammack, Presiden The Fed Minneapolis Neel Kashkari, dan Presiden The Fed Dallas Lorie Logan, diketahui menyuarakan dukungan terhadap kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin. Perbedaan sikap itu mencerminkan masih kuatnya perdebatan mengenai langkah yang paling tepat untuk menekan inflasi tanpa menghambat pertumbuhan ekonomi.

Ketua Federal Reserve, Kevin Warsh, menyatakan pembahasan dalam rapat FOMC berfokus pada perkembangan inflasi, dampak guncangan ekonomi global, tekanan harga, serta efektivitas kebijakan moneter yang telah ditempuh selama beberapa waktu terakhir.

Menurutnya, kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS sejak pertemuan sebelumnya menunjukkan bahwa pasar terus menyesuaikan ekspektasi terhadap kondisi ekonomi dan arah kebijakan bank sentral.

Pada perdagangan Kamis, imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun naik hampir lima basis poin menjadi 4,672 persen, sedangkan obligasi tenor dua tahun relatif stabil di level 4,240 persen.

Di tengah dinamika kebijakan moneter tersebut, meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah juga menjadi faktor yang menopang harga emas. Investor kembali memburu aset-aset yang dianggap aman atau safe haven sebagai langkah antisipasi terhadap potensi eskalasi konflik.

Amerika Serikat dilaporkan melancarkan serangan baru terhadap Iran sebagai respons atas dugaan ancaman terhadap pasukan AS di kawasan. Sebelumnya, Presiden Donald Trump menegaskan Washington akan memberikan respons tegas terhadap setiap ancaman yang berasal dari Teheran.

Ketegangan tersebut turut mendorong kenaikan harga minyak dunia karena muncul kekhawatiran terhadap stabilitas pasokan energi global.

Risiko juga meningkat setelah kelompok Houthi di Yaman memperingatkan akan menargetkan kapal-kapal milik Arab Saudi yang melintasi jalur pelayaran menuju Samudra Hindia. Ancaman tersebut memicu kekhawatiran terhadap keamanan jalur distribusi perdagangan internasional dan membuat sejumlah perusahaan pelayaran mulai mempertimbangkan penggunaan rute alternatif.

Kombinasi pelemahan dolar AS, melambatnya inflasi, ketidakpastian arah kebijakan Federal Reserve, serta meningkatnya ketegangan geopolitik diperkirakan masih akan menjadi faktor utama yang memengaruhi pergerakan harga emas global dalam beberapa waktu ke depan. Bagi investor, kondisi tersebut membuka peluang kenaikan harga emas, namun tetap disertai risiko volatilitas yang tinggi akibat perubahan kebijakan moneter dan perkembangan situasi internasional.

- Advertisement -

BACA LAINNYA

Judi Online Wajib Dimasukkan ke Dalam Daftar Tindak Pidana RUU Perampasan Aset

JCCNetwork.id- Mantan Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan, Mahfud MD, menilai tindak pidana perjudian daring seharusnya turut dimasukkan ke dalam kategori kejahatan yang dapat...

BERITA TERBARU

EKONOMI

TERPOPULER