JCCNetwork.id-Presiden Prabowo Subianto meresmikan dimulainya pembangunan Proyek Strategis Nasional (PSN) Liquefied Natural Gas (LNG) Abadi Masela, Kamis (16/7/2026).
Peresmian groundbreaking dilakukan secara virtual dari Istana Kepresidenan, Jakarta, sementara lokasi proyek berada di Kabupaten Kepulauan Tanimbar, Provinsi Maluku.
Dalam peresmian tersebut, Prabowo menyatakan secara resmi dimulainya pembangunan proyek migas yang telah dipersiapkan selama hampir tiga dekade.
“Dengan demikian dan dengan mengucap Bismillahirrahmanirrahim pada siang hari ini hari Kamis 16 Juli 2026, dengan rahmat Tuhan yang maha besar, saya Prabowo Subianto Presiden Republik Indonesia. Saya nyatakan groundbreaking Proyek Strategis Nasional Liquefied Natural Gas Abadi Masela aecara resmi dinyakan dimulai,” kata Prabowo.
Presiden menegaskan pembangunan nasional membutuhkan komitmen jangka panjang serta dukungan seluruh elemen bangsa.
Menurutnya, proyek LNG Abadi Masela merupakan salah satu proyek strategis yang telah lama dinantikan hingga akhirnya memasuki tahap konstruksi.
“Proyek ini hampir tiga dekade, tiga dasawarsa, kita tunggu tiga dekade, tiga dasawarsa, rakyat menunggu. Alhamdulillah hari ini kita mulai pembangunan dan pembangunan tidak boleh terhambat harus selesai dalam waktu sesingkat-singkatnya,” ungkapnya.
LNG Abadi Masela merupakan proyek hulu migas yang berlokasi sekitar 170–180 kilometer di barat daya Kabupaten Kepulauan Tanimbar.
Proyek tersebut dikembangkan melalui skema Cost Recovery Production Sharing Contract (PSC) oleh INPEX Masela Ltd.
sebagai operator dengan kepemilikan saham 65 persen, bekerja sama dengan PT Pertamina (Persero) yang menguasai 20 persen saham dan Petronas sebesar 15 persen.
Nilai investasi proyek ini mencapai sekitar 20,9 miliar dolar Amerika Serikat.
Fasilitas tersebut dirancang memiliki kapasitas produksi 9,5 juta ton LNG per tahun, memasok gas pipa domestik sebesar 150 MMSCFD, serta menghasilkan kondensat sekitar 35 ribu barel per hari guna mendukung kebutuhan energi nasional.
Proyek Abadi Masela pertama kali dikontrak pada 1998 dan kini memasuki fase konstruksi setelah melalui proses pengembangan yang panjang.
Hingga awal Juli 2026, progres Front End Engineering Design (FEED) telah mencapai 79,56 persen atau melampaui target yang ditetapkan.
Pemerintah menargetkan Final Investment Decision (FID) dapat tercapai pada akhir 2026 seiring penyelesaian perizinan dan desain fasilitas utama.







