Ketegangan AS-Iran Picu Kenaikan Harga Minyak

BACA JUGA

OLAHRAGA

TECHNOLOGY

HIBURAN

JCCNetwork.id- Harga minyak dunia kembali mencatat kenaikan signifikan pada perdagangan Rabu (15/7/2026) di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran. Eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah memicu kekhawatiran pasar terhadap potensi terganggunya pasokan minyak global, terutama dari jalur pelayaran strategis Selat Hormuz.

Kenaikan harga minyak terjadi setelah militer Amerika Serikat meningkatkan operasi serangan terhadap sejumlah target di Iran. Situasi tersebut diperparah oleh laporan yang menyebut Washington tengah mempertimbangkan opsi operasi militer yang lebih luas, termasuk kemungkinan pengerahan pasukan darat di sekitar Selat Hormuz.

- Advertisement -

Berdasarkan data perdagangan internasional, kontrak berjangka minyak mentah Brent untuk pengiriman September ditutup menguat sekitar satu persen menjadi USD85,58 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat untuk pengiriman Agustus naik 1,3 persen menjadi USD80,38 per barel.

Sepanjang pekan ini, harga minyak telah melonjak hampir 13 persen dan mencapai level tertinggi dalam lebih dari satu bulan. Lonjakan tersebut dipicu meningkatnya premi risiko geopolitik yang kembali membayangi pasar energi dunia.

Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) menyatakan operasi militer terbaru ditujukan untuk melumpuhkan kemampuan militer Iran yang dinilai mengancam keamanan pelayaran internasional di Selat Hormuz. Jalur tersebut merupakan salah satu jalur distribusi minyak paling penting di dunia karena menjadi lintasan utama ekspor minyak dari negara-negara Teluk.

- Advertisement -

Komandan CENTCOM Jenderal Brad Cooper mengungkapkan bahwa dalam sepekan terakhir Iran disebut telah melakukan serangan terhadap tujuh kapal komersial. Insiden tersebut menyebabkan sejumlah awak kapal sipil menjadi korban, baik meninggal dunia, hilang, maupun mengalami luka-luka.

Di sisi lain, laporan media Amerika menyebut Presiden Donald Trump sedang mempertimbangkan berbagai opsi militer tambahan terhadap Iran. Opsi tersebut mencakup peningkatan intensitas serangan udara, penguasaan pulau-pulau strategis di sekitar Selat Hormuz hingga serangan terhadap fasilitas yang diduga berkaitan dengan program nuklir Iran.

Trump juga kembali melontarkan pernyataan keras kepada Teheran. Ia menegaskan pemerintahannya siap mengambil langkah lebih tegas apabila Iran tidak bersedia kembali ke meja perundingan untuk mencapai kesepakatan baru.

Trump juga mengeluarkan retorika keras terhadap Iran. Pada hari Selasa, ia mengatakan dalam sebuah wawancara di Fox News:

“Kita akan menghancurkan semua pembangkit listrik mereka, kita akan menghancurkan semua jembatan mereka, kecuali mereka mau duduk di meja perundingan dan bernegosiasi.”

Pernyataan tersebut semakin memperbesar kekhawatiran pelaku pasar terhadap kemungkinan meluasnya konflik bersenjata di kawasan Timur Tengah. Analis menilai setiap gangguan terhadap aktivitas pelayaran di Selat Hormuz dapat berdampak langsung terhadap distribusi minyak dunia dan mendorong harga energi melonjak lebih tinggi.

Pada hari Rabu, Presiden AS ditanya apakah ia akan memberi Iran tenggat waktu sebelum menyerang jembatan, dan ia menjawab: “Saya tidak suka memberi tenggat waktu, tetapi mereka cukup tahu—mereka tahu ceritanya. Mereka sebaiknya bersikap baik.”

Lembaga investasi Goldman Sachs menilai prospek harga minyak masih dibayangi risiko kenaikan dalam jangka pendek. Bank investasi tersebut mempertahankan proyeksi harga rata-rata minyak Brent sebesar USD80 per barel pada kuartal IV 2026 dan sekitar USD75 per barel sepanjang 2027.

Namun demikian, Goldman Sachs memperingatkan harga Brent berpotensi melampaui USD110 per barel apabila pasokan minyak dari kawasan Teluk terus terganggu akibat konflik berkepanjangan. Sebaliknya, harga dapat kembali turun ke kisaran USD60 per barel apabila distribusi minyak pulih lebih cepat dan permintaan global melemah akibat tingginya harga bahan bakar.

Selain faktor geopolitik, pasar juga mendapat sentimen dari data terbaru persediaan minyak Amerika Serikat. Administrasi Informasi Energi AS (EIA) melaporkan stok minyak mentah komersial berkurang sekitar 1,7 juta barel pada pekan yang berakhir 10 Juli 2026.

Jumlah tersebut sedikit lebih rendah dibandingkan perkiraan analis yang memperkirakan penurunan sebesar 1,8 juta barel. Meski demikian, total persediaan minyak komersial Amerika tetap berada pada titik terendah dalam delapan tahun terakhir.

EIA juga mencatat total cadangan minyak mentah Amerika Serikat, termasuk Strategic Petroleum Reserve (SPR), menyusut hingga 4,6 juta barel menjadi sekitar 726,2 juta barel. Angka tersebut merupakan level terendah sejak Mei 1984.

Kondisi tersebut memperkuat pandangan bahwa pasar minyak global masih menghadapi tekanan dari sisi pasokan. Selama konflik di Timur Tengah belum menunjukkan tanda-tanda mereda, volatilitas harga minyak diperkirakan akan tetap tinggi dan berpotensi memengaruhi inflasi serta biaya energi di berbagai negara.

- Advertisement -

BACA LAINNYA

BMKG Imbau Waspada Kekeringan

JCCNetwork.id – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan peringatan dini potensi kekeringan meteorologis untuk dasarian II Juli 2026 atau periode 11–20 Juli 2026. Sejumlah...

BERITA TERBARU

EKONOMI

TERPOPULER