JCCNetwork.id-Kim Jong Un kembali terpilih sebagai sekretaris jenderal Partai Buruh Korea Utara dalam kongres partai yang digelar di Pyongyang, Minggu (22/2/2026).
Penetapan tersebut diumumkan oleh media pemerintah dan dinilai tidak mengejutkan, mengingat keluarga Kim telah memimpin negara itu sejak akhir 1940-an.
Kantor berita resmi Korean Central News Agency (KCNA) melaporkan bahwa di bawah kepemimpinan Kim, Korea Utara telah “secara radikal meningkatkan kemampuan pencegahan perang, dengan kekuatan nuklir sebagai porosnya.”
Pernyataan itu menegaskan kembali komitmen Pyongyang terhadap pengembangan persenjataan strategisnya.
Meski berada di bawah sanksi internasional selama bertahun-tahun, Korea Utara terus melanjutkan pengembangan program nuklir dan uji coba rudal balistik antarbenua yang dilarang.
Namun, tertutupnya akses informasi dari rezim tersebut membuat capaian riil di bidang militer sulit diverifikasi oleh pengamat internasional.
Kim mengambil alih kepemimpinan negara setelah wafatnya ayahnya pada 2011. Sejak saat itu, ia mengalokasikan sumber daya besar untuk memperkuat program senjata nuklir, menjadikan Pyongyang tantangan signifikan bagi negara-negara Barat, terutama Amerika Serikat.
Kongres partai yang berlangsung sejak 19 Februari itu kini memasuki hari keempat. Sekitar 5.000 anggota partai dilaporkan hadir dalam agenda lima tahunan tersebut. Forum ini menjadi salah satu momen langka yang memberikan gambaran struktur kekuasaan politik Korea Utara, yang selama ini dikenal tertutup.
Menjelang pembukaan kongres, pemerintah memamerkan sejumlah peluncur roket yang diklaim berkemampuan nuklir. Pengamat memperkirakan Kim akan memaparkan tahapan lanjutan program persenjataan negaranya dalam pidato penutupan.
Selain isu pertahanan, Kim dalam pidato pembukaannya menekankan pentingnya pemulihan ekonomi dan peningkatan taraf hidup rakyat. Ia menyebut agenda tersebut sebagai “tugas-tugas bersejarah yang berat dan mendesak.”
Kongres kali ini juga diwarnai perombakan signifikan di tubuh presidium atau komite eksekutif partai. Lebih dari separuh dari total 39 anggota disebut telah diganti sejak kongres terakhir pada 2021, menurut laporan media pemerintah yang dikutip BBC.
Perhatian publik turut tertuju pada kemungkinan kemunculan putri Kim, Kim Ju Ae, dalam agenda resmi kongres. Badan intelijen Korea Selatan sebelumnya menyebut Ju Ae, yang diperkirakan berusia 13 tahun, telah dipersiapkan sebagai penerus.
Dalam beberapa bulan terakhir, ia kerap mendampingi ayahnya dalam inspeksi fasilitas rudal dan parade militer di Pyongyang.







