JCCNetwork. id- Harapan Rusia untuk kembali mengoperasikan satu-satunya kapal induknya, Admiral Flota Sovetskogo Soyuza Kuznetsov, resmi kandas.
Setelah delapan tahun perbaikan yang penuh insiden dan membakar anggaran ratusan juta dolar AS, Kremlin memutuskan menghentikan modernisasi kapal perang era Soviet tersebut.
Keputusan ini sekaligus menegaskan satu fakta pahit: Rusia kini tak memiliki kapal induk yang benar-benar operasional.
Kuznetsov sempat digadang-gadang kembali berlayar pada 2025. Namun, janji itu berulang kali meleset.
Kapal yang masuk dok perbaikan sejak Juli 2018 tersebut justru berubah menjadi simbol kegagalan teknis dan manajerial. Media Barat menjulukinya sebagai “lubang tanpa dasar” karena terus menelan biaya tanpa hasil nyata.
Secara doktrin, Kuznetsov memang bukan kapal induk super seperti milik Angkatan Laut Amerika Serikat.
Kapal ini dirancang sebagai “kapal penjelajah pembawa pesawat berat” untuk melindungi armada kapal selam dan kapal permukaan Soviet, bukan sebagai pangkalan udara terapung untuk proyeksi kekuatan global.
Meski demikian, keberadaannya selama bertahun-tahun tetap penting bagi Moskowsetidaknya untuk menunjukkan bendera dan status geopolitik di perairan jauh.
Masalahnya, usia dan desain Kuznetsov tak lagi sejalan dengan tuntutan perang modern.
Kapal ini mengandalkan pesawat tempur Sukhoi Su-33 yang ketinggalan zaman, lepas landas dengan landasan lompatan ski tanpa ketapel, serta ditenagai bahan bakar mazut yang menghasilkan asap hitam tebal ciri yang membuatnya mudah dilacak.
Daya tahannya pun terbatas, hanya sekitar 45 hari, dan operasinya kerap harus dikawal kapal tunda karena rawan gangguan mesin.
Reputasi Kuznetsov memburuk di mata internasional. Pada sejumlah penugasan, Angkatan Laut Amerika Serikat bahkan sempat mengkhawatirkan kapal itu berisiko kandas atau tenggelam. Inggris pernah menyebutnya “kapal memalukan” saat melintas dengan asap hitam pekat di dekat perairannya.
Meski demikian, kapal ini sempat mencatatkan puncak karier pada 2016–2017 ketika mendukung operasi Rusia di Suriah dengan ratusan misi udara.
Upaya memperpanjang usia Kuznetsov justru diwarnai rangkaian kecelakaan fatal. Derek seberat 70 ton jatuh ke dek penerbangan pada 2018, menewaskan seorang pekerja. Kebakaran di ruang mesin pada 2019 kembali merenggut nyawa.
Dok kering apung yang vital untuk perbaikan rusak akibat pemadaman listrik, hampir menenggelamkan kapal. Kasus dugaan korupsi dalam proyek perbaikan pun mencuat, semakin memperlambat pekerjaan.
Seiring berjalannya waktu, narasi resmi tentang “kemajuan” tak pernah berujung pelayaran. Hingga pertengahan tahun lalu, laporan internal menyebut Kuznetsov tak akan kembali beroperasi. Musim gugur berikutnya, Kremlin memilih menonaktifkannya.
Mantan Komandan Armada Pasifik Rusia, Laksamana Sergei Avakyants, menilai Kuznetsov adalah produk zaman yang telah lewat mahal dan tidak efektif.
Pandangan itu sejalan dengan realitas perang modern yang kini bergeser ke sistem nirawak dan teknologi robotik. Di tengah konflik Ukraina dan tekanan anggaran, Rusia dinilai tak lagi mampu mempertahankan ambisi kapal induk konvensionalnya.





















