JCCNetwork.id- Ancaman malaria di Sulawesi Tengah memasuki fase mengkhawatirkan. Data terbaru Dinas Kesehatan (Dinkes) Donggala mencatat 60 kasus malaria sepanjang Januari hingga September 2025. Jumlah tersebut melonjak tajam dibanding tahun sebelumnya yang hanya mencatat lima kasus.
Pj Kepala Bidang Penyakit Menular Dinkes Donggala, Alamsyah, menegaskan bahwa seluruh kasus yang ditemukan merupakan penularan lokal.
“Artinya, penularan terjadi di wilayah kita sendiri,” ujarnya, Rabu (1/10/2025).
Sebaran kasus terbanyak berada di wilayah kerja Puskesmas Kayuwou dengan 35 kasus. Disusul Puskesmas Lembasada sebanyak 16 kasus, RSUD Kabelota empat kasus, Puskesmas Batusuya tiga kasus, serta masing-masing satu kasus di Puskesmas Toaya dan Pinembani.
Situasi tak kalah serius terjadi di Kabupaten Parigi Moutong (Parimo). Pemerintah daerah menetapkan status siaga darurat kejadian luar biasa (KLB) malaria setelah mencatat 190 kasus sejak awal 2025. Mayoritas penderita berasal dari kelompok usia produktif yang bekerja di sektor pertambangan.
Kepala Bidang P2P Dinkes Parimo, Yunita Tagunu, mengatakan langkah siaga darurat diawali dengan sosialisasi bersama BPBD di Kecamatan Balinggi dan Torue, Selasa (30/9/2025).
“Kami fokus memperkuat langkah pencegahan agar status eliminasi malaria tetap terjaga dan tidak muncul kasus baru,” ujarnya.
Upaya pencegahan juga melibatkan pemerintah kecamatan. Sekretaris Camat Balinggi mengusulkan pembentukan posko pemeriksaan di wilayah perbatasan untuk mengawasi pekerja tambang. Sementara di Kecamatan Torue, puskesmas diminta rutin melakukan rapid diagnostic test (RDT) terhadap pendatang.
Dinkes Provinsi Sulawesi Tengah sebelumnya mengungkapkan lonjakan kasus malaria di Parimo berawal dari kasus impor yang dibawa pekerja tambang asal Pohuwato, Gorontalo, pada Oktober 2024. Kepala Bidang P2P Dinkes Sulteng, dr Jumriani, menjelaskan penyebaran penyakit terus meluas akibat keberadaan vektor nyamuk malaria di sekitar area bekas tambang.
“Yang meninggal tidak ada, tetapi kasus baru tetap muncul,” jelasnya.
Untuk menekan penyebaran, pemerintah pusat bersama pemerintah provinsi dan kabupaten kini menggelar pemeriksaan massal menggunakan RDT, penyelidikan epidemiologi, penyemprotan larvasida, hingga pembagian kelambu berinsektisida kepada masyarakat. BPBD turut mengimbau warga meningkatkan kewaspadaan dan segera melapor melalui Call Center BPBD 117 jika menemukan gejala malaria.
Dengan lonjakan kasus di Donggala serta penetapan siaga darurat di Parigi Moutong, Sulawesi Tengah kini berada dalam ancaman serius malaria. Kawasan tambang dan wilayah perbatasan hutan disebut menjadi titik rawan utama penyebaran nyamuk penular penyakit tersebut.



