JCCNetwork.id- Harga emas menguat di pasar spot setelah data harga produsen Amerika Serikat (AS) menunjukkan kinerja yang lebih lemah dari yang diperkirakan, meningkatkan harapan akan penurunan suku bunga AS tahun ini. Penambahan kilau logam kuning ini juga didukung oleh kekhawatiran yang terus berlanjut terkait geopolitik.
Pada penutupan perdagangan Kamis, 11 April 2024, harga emas naik 1,7 persen menjadi USD2,372 per ons. Hal ini didorong oleh pelemahan dolar AS dan imbal hasil treasury setelah data harga produsen AS dirilis.
Menurut laporan Departemen Tenaga Kerja AS, Indeks Harga Produsen (PPI) naik 0,2 persen bulan ke bulan di bulan Maret, sedikit di bawah kenaikan 0,3 persen yang diperkirakan oleh para ekonom yang disurvei oleh Reuters.
“Data PPI dirilis sedikit lebih rendah dari perkiraan dan hal ini tetap menghidupkan harapan kemungkinan penurunan suku bunga pada akhir tahun, sebagai hasilnya harga emas naik,” kata David Meger, Direktur Perdagangan Logam di High Ridge Futures, seperti dilaporkan oleh CNBC International pada Jumat, 12 April 2024.
Meger juga menyatakan bahwa pembelian oleh bank sentral dan ketidakpastian geopolitik terus menjadi faktor pendukung pasar emas. Para pedagang menduga Federal Reserve (The Fed) dapat memulai penurunan suku bunga paling cepat pada pertemuan mereka di akhir Juli, setelah data inflasi dirilis.
Meskipun emas secara tradisional dianggap sebagai lindung nilai terhadap inflasi, suku bunga yang lebih tinggi dapat mengurangi daya tarik untuk memegang emas yang tidak memberikan imbal hasil.



