JCCNetwork.id- Di kota besar DKI Jakarta terdapat kawasan-kawasan yang tak asing lagi bagi masyarakat, seperti Senayan, Lebak Bulus, dan Warung Buncit. Namun, di balik nama-nama yang populer itu tersembunyi cerita menarik yang jarang diketahui banyak orang.
Menurut Abdul Malik, seorang tokoh Betawi, nama-nama jalan di Jakarta sebenarnya bukan nama asli. Hampir semua nama jalan di ibu kota mengalami perubahan dari nama aslinya. Setiap kawasan memiliki cerita uniknya sendiri, termasuk Senayan, Warung Buncit, dan Lebak Bulus.
Kisah di balik nama Senayan dimulai dengan Wangsanaya. Nama ini diambil dari seorang saudagar kaya asal Bali yang menjadi pemilik kawasan Senayan, yaitu Wangsanaya. Seiring berjalannya waktu, orang-orang mulai menyebutnya dengan akhiran katanya saja, hingga akhirnya nama kawasan elit ini berubah menjadi Senayan.
Lebak Bulus, yang terkenal dengan terminal bus AKAP, sebenarnya berasal dari kata lebak yang berarti lembah, dan bulus yang berarti kura-kura. Nama ini diambil dari keberadaan sebuah sungai di kawasan tersebut yang dulunya dipenuhi oleh kura-kura. Meskipun sungai tersebut masih ada, tetapi kura-kura sudah sulit ditemukan.
Nama Lebak dan Bulus menggambarkan adanya sungai dengan banyak kura-kura, dan nama ini menjadi ciri khas daerah tersebut. Karena pengucapannya yang kurang enak, masyarakat setempat memendekkannya menjadi Lebak Bulus.
Sedangkan Warung Buncit memiliki kisah yang unik. Nama ini berasal dari sebuah warung yang terletak di antara Jalan Warung Jati Barat dan Mampang Prapatan, yang dikenal sebagai bun tjit. Pada awalnya, kawasan ini merupakan daerah pertanian dengan nama Pulo Kalibata.
Namun, seiring dengan ketenaran dan perkembangan warung tersebut, orang-orang semakin mengenalnya. Oleh karena itu, sekarang kawasan tersebut lebih dikenal dengan nama Warung Buncit.



