Donald Trump Desak Sekutu Buka Blokade Hormuz

BACA JUGA

OLAHRAGA

TECHNOLOGY

HIBURAN

JCCNetwork.id-Ketegangan di Selat Hormuz meningkat tajam menyusul serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari.

Serangan yang menimbulkan kerusakan serta korban sipil di Teheran itu dibalas Iran dengan serangan ke wilayah Israel dan fasilitas militer AS di Timur Tengah.

- Advertisement -

Eskalasi tersebut menyebabkan jalur pelayaran di Selat Hormuz praktis terhenti.

Gangguan ini langsung memukul distribusi minyak dan gas alam cair dari kawasan Teluk Persia ke pasar global.

Sejumlah pimpinan perusahaan energi dunia memperingatkan bahwa terhentinya pengiriman melalui jalur tersebut berpotensi memperburuk volatilitas pasar energi internasional.

- Advertisement -

Presiden AS Donald Trump mendorong negara-negara sekutu untuk ikut serta dalam upaya membuka kembali jalur strategis tersebut.

Dalam pernyataannya, ia meminta dukungan negara-negara seperti Jepang, China, Inggris, Prancis, dan Korea Selatan untuk mengirimkan kekuatan militer guna mengamankan pelayaran.

Trump juga menekan sekutu NATO dengan peringatan konsekuensi serius jika gagal menjaga stabilitas di kawasan itu.

“masa depan yang sangat buruk” jika gagal mengamankan selat tersebut.

Namun, respons negara-negara sekutu bervariasi.
“tidak ada hal buruk yang terjadi di sana”.

Inggris menegaskan tidak akan menjalankan operasi di bawah mandat NATO, sementara Prancis memilih pendekatan diplomatik dengan menjajaki patroli bersama pascakonflik.

“Izinkan saya tegaskan: itu tidak akan dan tidak pernah direncanakan sebagai misi NATO,” kata Starmer dalam konferensi pers pada Senin (16/3).

Polandia, Yunani, dan Swedia juga menyatakan tidak akan terlibat. Jepang turut menolak mengirim pasukan, dengan alasan keterbatasan mandat pertahanan.
“tidak memiliki rencana untuk berpartisipasi dalam misi semacam itu”.

Dari pihak Iran, pemimpin tertinggi baru Mojtaba Khamenei menegaskan bahwa Selat Hormuz akan tetap ditutup sebagai bagian dari strategi menghadapi tekanan Amerika Serikat dan Israel.

Di tengah situasi tersebut, Uni Eropa mulai membahas kemungkinan memperluas misi maritimnya ke kawasan tersebut.

Sementara itu, Gedung Putih mempertimbangkan berbagai langkah untuk meredam lonjakan harga minyak, termasuk pelonggaran sanksi dan pelepasan cadangan energi strategis.

“Saat ini banyak pembicaraan, tetapi tidak relevan bagi Swedia untuk berpartisipasi”. Sumber daya Swedia saat ini difokuskan pada Ukraina.
Selat Hormuz sendiri merupakan jalur vital yang mengalirkan sekitar 20% pasokan minyak dunia dan sebagian besar ekspor energi dari negara-negara Teluk.

Penutupan jalur ini berisiko mendorong harga minyak melonjak tajam serta memicu gangguan besar pada rantai pasok global.

Analis memperingatkan, jika krisis berlarut-larut, dampaknya tidak hanya terbatas pada sektor energi, tetapi juga berpotensi memicu inflasi global dan tekanan ekonomi di berbagai negara, termasuk negara pengimpor energi seperti Indonesia.

- Advertisement -

BACA LAINNYA

Harga Emas Tertahan di Tengah Ketidakpastian Suku Bunga

JCCNetwork.id-Harga emas dunia masih bergerak dalam rentang terbatas pada perdagangan Selasa (21/4/2026), seiring pelaku pasar yang memilih menunggu kepastian arah kebijakan suku bunga bank...

BERITA TERBARU

EKONOMI

TERPOPULER