Lima Anak di Riau Meninggal Akibat Flu Babi H1N1, Ahli Peringatkan Ledakan Penularan

BACA JUGA

OLAHRAGA

TECHNOLOGY

HIBURAN

JCCNetwork.id-Kasus flu babi akibat virus Influenza A/H1pdm09 kembali menelan korban jiwa di Indonesia. Lima anak di Provinsi Riau dilaporkan meninggal dunia setelah terinfeksi virus tersebut, memicu kewaspadaan baru terhadap penyebaran penyakit yang kerap menyerang kelompok usia dini.

Menurut para ahli, Influenza A/H1pdm09 tidak menular dari kontak atau konsumsi hewan babi, melainkan menyebar antarmanusia melalui droplet—persis seperti influenza musiman.

- Advertisement -

Epidemiolog dr. Dicky Budiman menjelaskan mekanisme penularan virus ini pada anak-anak. Ia menyebut, droplet dari batuk, bersin, atau percakapan menjadi jalur penyebaran utama.

“Pola penularannya sama seperti influenza musiman. Ada droplet berukuran besar yang keluar saat seseorang batuk, bersin, atau berbicara,” ujar dr. Dicky saat dihubungi iNews Media Group, Senin (1/12/2025).

Anak-anak Paling Rentan
dr. Dicky menegaskan, anak-anak—terutama yang berada di lingkungan padat dengan interaksi dekat bersama orang dewasa—menjadi kelompok yang paling mudah terinfeksi. Virus H1N1 dapat bertahan pada permukaan benda hingga 48 jam, sehingga risiko penularan melalui benda terkontaminasi sangat tinggi.

- Advertisement -

“Anak mudah tertular dari tangan yang terkontaminasi. Kerentanan anak, terutama di bawah 5 tahun, lebih tinggi karena imunitas mereka belum matang dan mereka sering berbagi mainan,” jelasnya.
Sanitasi Buruk dan Gizi Minim Jadi Faktor Risiko

Kasus di Riau, menurutnya, tidak lepas dari persoalan sanitasi. Minimnya fasilitas MCK dan kebersihan lingkungan mempercepat penyebaran penyakit saluran napas.

“Sanitasi buruk meningkatkan penularan infeksi saluran napas dan penyakit lain yang melemahkan imunitas,” tegas dr. Dicky.

 

Selain itu, gizi buruk turut memperparah kondisi anak karena menurunkan daya tahan tubuh, termasuk pertahanan mukosa saluran napas yang menjadi benteng awal menghadapi virus.

“Ini yang meningkatkan risiko komplikasi fatal. Cakupan imunisasi dasar yang rendah juga membuat anak rentan terserang pertussis dan infeksi campuran,” tambahnya.

dr. Dicky mendorong pemerintah daerah dan orang tua untuk memperketat kebersihan lingkungan, memastikan asupan gizi anak, serta meningkatkan edukasi soal pentingnya mencuci tangan.

Langkah-langkah sederhana itu, menurutnya, menjadi tameng awal yang paling efektif mencegah penyebaran H1N1 di tengah masyarakat.

- Advertisement -

BACA LAINNYA

BMKG Ingatkan Waspada Banjir di Puncak Hujan

JCCNetwork.id- Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengonfirmasi sebagian besar wilayah Indonesia telah memasuki musim hujan pada akhir November 2025. Berdasarkan laporan resmi yang...

BERITA TERBARU

EKONOMI

TERPOPULER