JCCNetwork.id –Pemerintah Amerika Serikat resmi menghentikan proyek pengembangan vaksin mRNA terbaru senilai US$ 500 juta, meski teknologi ini dinilai telah menyelamatkan jutaan jiwa selama pandemi Covid-19. Keputusan ini diambil langsung oleh Menteri Kesehatan AS, Robert F Kennedy Jr, yang dikenal sebagai pengkritik vaksin sejak lama.
Proyek tersebut sejatinya dirancang untuk menciptakan vaksin mRNA terhadap penyakit pernapasan yang berpotensi memicu darurat kesehatan global berikutnya. Namun, pembatalan ini memicu kekecewaan di kalangan pakar penyakit menular.
“Teknologi mRNA memungkinkan produksi vaksin jauh lebih cepat dibandingkan metode tradisional, memberi waktu berharga jika pandemi baru muncul,” tegas Michael Osterholm, pakar kesiapsiagaan pandemi dari Universitas Minnesota, seperti dikutip AP, Kamis (7/8/2025) malam.
Osterholm mencontohkan, jika pandemi flu global menggunakan teknologi lama, dibutuhkan waktu hingga 18 bulan hanya untuk memproduksi vaksin bagi seperempat populasi dunia. Sementara itu, vaksin mRNA dapat diperbarui dan diproduksi dalam skala besar dalam waktu lebih singkat.
Penelitian bertahun-tahun menunjukkan, perlindungan dari vaksin Covid-19 baik berbasis mRNA maupun teknologi tradisional—memang menurun seiring waktu. Namun, vaksin tetap menjadi perlindungan paling efektif untuk mencegah infeksi parah dan kematian, meski infeksi ringan masih mungkin terjadi.
Kondisi ini juga berlaku pada virus corona dan influenza yang terus bermutasi. Karena itu, vaksin flu tahunan hingga kini masih diproduksi dengan metode tradisional.
Padahal, vaksin mRNA seperti yang dikembangkan Pfizer dan Moderna terbukti dapat diperbarui lebih cepat setiap tahunnya, menjadi keunggulan yang mendorong banyak perusahaan mengembangkan teknologi serupa.























