JCCNetwork.id-Nilai tukar rupiah terus merosot tajam di tengah gejolak kebijakan perdagangan global. Setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengumumkan tarif timbal balik yang tinggi, termasuk tarif impor untuk Indonesia yang mencapai 32%, rupiah makin terpuruk ke level kritis.
Menurut data yang dikutip dari Bloomberg, pada Kamis (3/4/2025) pukul 09.25 WIB di pasar spot exchange, rupiah tercatat berada di level Rp 16.758 per dolar AS. Angka ini menunjukkan pelemahan sebesar 45,5 poin atau 0,27% dibandingkan hari sebelumnya. Kondisi ini semakin mendekati rekor terburuk nilai tukar rupiah sepanjang sejarah, yakni Rp 16.800 per dolar AS yang terjadi pada 17 Juni 1998 saat Indonesia mengalami krisis ekonomi.
Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong, menilai pelemahan rupiah tak lepas dari kebijakan tarif impor tinggi yang diberlakukan oleh AS. Dengan tarif yang mencapai 32%, Indonesia menjadi salah satu negara yang paling terkena dampak.
“Sebagai salah satu negara yang dikenakan tarif besar, rupiah akan tertekan berat,” ujar Lukman, dikutip dari Antara.
Kebijakan ini membuat investor semakin khawatir terhadap prospek perdagangan Indonesia dengan AS, yang merupakan salah satu mitra dagang utama. Akibatnya, tekanan terhadap rupiah semakin kuat seiring dengan arus modal asing yang cenderung keluar dari pasar keuangan dalam negeri.
Melemahnya nilai tukar rupiah ini diperkirakan akan memicu langkah intervensi dari Bank Indonesia (BI) untuk menjaga stabilitas pasar. Menurut Lukman, sentimen pasar saat ini sangat negatif dan berada dalam mode “risk off”, di mana investor cenderung menghindari risiko dan mencari aset yang lebih aman seperti dolar AS.
“Sentimen pasar sangat negatif dan risk off, Bank Indonesia akan (melakukan) intervensi,” ujarnya.
Intervensi yang dilakukan oleh BI biasanya berupa penjualan cadangan devisa untuk menstabilkan nilai tukar atau meningkatkan suku bunga guna menarik kembali aliran modal asing. Namun, langkah ini juga memiliki risiko, terutama jika cadangan devisa terus terkuras dalam jangka panjang.
Dengan tekanan global yang masih berlanjut, rupiah diperkirakan akan bergerak dalam rentang Rp 16.600 hingga Rp 16.900 per dolar AS. Jika terus melemah hingga menembus batas atas, maka rupiah berpotensi mencetak rekor terburuknya dalam sejarah.
Kondisi ini tentu menjadi perhatian serius bagi perekonomian Indonesia. Pelemahan rupiah yang berkepanjangan bisa memicu lonjakan harga impor, termasuk bahan baku industri dan barang konsumsi, yang pada akhirnya dapat meningkatkan inflasi.
Pemerintah dan Bank Indonesia perlu merespons situasi ini dengan kebijakan yang tepat guna menstabilkan nilai tukar dan menjaga daya beli masyarakat. Jika tidak, dampak pelemahan rupiah ini bisa merembet lebih luas dan menghambat pertumbuhan ekonomi nasional.



