Abuya Asep menekankan bahwa fenomena kesurupan tidak bisa dijadikan alat bukti dalam kasus ini. Untuk itu sebaiknya doakan saja almarhumah Vina.
“Orang kesurupan tidak bisa dijadikan petunjuk atau referensi. Ini adalah jenis setan yang pengangguran,” tegasnya.
Sementara itu, KH. Abu Hanifah, dai kondang asal Jakarta sekaligus pengasuh Ponpes Nurul Hijrah Kp Dukuh Kramat Jati Jakarta Timur, menambahkan bahwa setan selalu berusaha menggoda manusia dengan berbagai cara.
“Setiap orang meninggalnya berbeda-beda, ada yang jatuh, tenggelam, atau sakit. Sedangkan setan ketika terlempar dari surga sudah bersumpah akan menggoda manusia,” kata KH. Abu Hanifah.
KH. Abu Hanifah juga menyatakan kekhawatirannya terhadap dampak film ini. Masyarakat diharapkan menghormati memori almarhumah dengan cara yang bijak dan penuh penghormatan.
Mengingat kebaikan dan mendoakan almarhumah jauh lebih bermanfaat daripada terjebak dalam polemik yang tidak membawa kemaslahatan.
“Film ini seharusnya tidak usah dibahas karena lebih berbahaya mengupas kejelekan-kejelekan yang sebetulnya tidak ada. Kita sebaiknya mengumumkan kebaikan-kebaikan orang yang sudah meninggal,” tambahnya.
Jadi ketiga tokoh tersebut sepakat bahwa fokus utama saat ini adalah mendoakan almarhumah Vina. Mereka mengingatkan bahwa memperdebatkan hal yang sudah tuntas hanya akan membawa dampak negatif bagi semua pihak.













