Krisis Polusi dan Kesehatan Makin Parah di Gaza

BACA JUGA

OLAHRAGA

TECHNOLOGY

HIBURAN

JCCNetwork.id- Kondisi di Jalur Gaza kian memburuk setelah serangkaian pengeboman intensif sejak 7 Oktober 2023, mengakibatkan lebih dari 360.000 bangunan hancur.

 

- Advertisement -

Menurut laporan dari Badan Lingkungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNEP), reruntuhan tersebut kini membentuk gunungan puing sebesar 39 juta ton.

 

“Peningkatan konflik sejak 7 Oktober 2023 menyebabkan 39 juta ton reruntuhan bangunan menggunung,” tegas UNEP, dikutip dari Middle East Monitor.

- Advertisement -

 

Bencana lingkungan ini mencakup polusi tanah, air, dan udara yang disebabkan oleh amunisi dan bahan peledak di daerah padat penduduk.

- Advertisement -

 

“Amunisi dan bahan peledak di kawasan padat penduduk mencemari tanah dan sumber air,” kata Badan PBB.

 

Selain menghadapi kerusakan infrastruktur besar-besaran, penduduk Gaza kini hidup di tengah krisis lingkungan yang parah. Serangan bom yang berulang kali telah mencemari tanah dan sumber air, menciptakan ancaman kesehatan serius.

 

“Kami tidak pernah tinggal di dekat sampah sebelumnya,” kata Asmahan al-Masri, pengungsi yang berasal dari Beit Hanoun.

 

“Saya membiarkan pintu tenda saya terbuka agar saya bisa menghirup udara segar, tetapi tidak ada udara sama sekali. Baunya sangat mengganggu,” kata Asmahan, dikutip dari BBC International.

 

Di kamp pengungsian, seperti yang dialami Asmahan al-Masri dari Beit Hanoun, bau busuk dari tumpukan sampah semakin memperburuk kondisi kehidupan.

 

Masri dan keluarganya kini harus berbagi ruang dengan lalat dan hewan pengerat akibat sampah yang menggunung.

 

Krisis di Gaza juga menyebabkan kelangkaan air bersih yang memaksa warga mengonsumsi air limbah untuk bertahan hidup.

 

Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA) melaporkan bahwa fasilitas desalinasi air gagal berfungsi karena kekurangan bahan bakar dan listrik, diperparah oleh blokade Israel terhadap pasokan air bersih.

 

Kondisi ini menyebabkan hanya ada kurang dari satu liter air per orang per hari, jauh di bawah standar minimum internasional. Akibatnya, lebih dari 66% penduduk Gaza kini menderita penyakit menular seperti kolera dan diare akut.

- Advertisement -

BACA LAINNYA

Pelatih Kamboja Akui Pertahanan Mereka Diobrak Abrik Garuda Muda 

JCCNetwork.id- Pelatih tim U-19 Kamboja, Phea Sopheaktra, mengakui kekalahan telak timnya dalam adu taktik bola mati melawan Indonesia U-19. Pertandingan yang berlangsung pada Sabtu...

BERITA TERBARU

EKONOMI

TERPOPULER