China Kutuk AS Jual Senjata ke Taiwan

BACA JUGA

OLAHRAGA

TECHNOLOGY

HIBURAN

JCCNetwork.id – Tiongkok atau China kutuk AS menjual senjata ke Taiwan yang berkisar senilai $300 juta. Pernyataan itu disampaikan langsung juru bicara Kementerian Pertahanan Tiongkok Wu Qian pada Selasa, (19/12) waktu setempat.

Pasalnya, dengan penjualan senjata ke Taiwan justru melanggar prinsip satu Tiongkok dan ketentuan resmi lainnya antara Tiongkok-Amerika Serikat (AS).

- Advertisement -

“Penjualan senjata ke Taiwan sangat melanggar prinsip satu Tiongkok dan ketentuan tiga komunike bersama Tiongkok-AS, khususnya komunike 17 Agustus,” kata Wu Qian.

Menurutnya, tindakan AS tersebut secara serius melemahkan kedaulatan dan keamanan Tiongkok.

“Ini menimbulkan ancaman serius terhadap perdamaian dan stabilitas di kawasan Selat Taiwan, dan mengirimkan pesan yang salah kepada kekuatan separatis yang menganjurkan “Kemerdekaan Taiwan,” jelasnya.

- Advertisement -

China Kutuk AS Menjual Senjata ke Taiwan

Wu Qian menjelaskan bahwa masalah Taiwan adalah masalah paling penting dan sensitif dalam hubungan Tiongkok-AS. Olehnya pihaknya menyerukan Amerika Serikat untuk berhenti menjual senjata ke Taiwan.

Pun demikian juga dengan menghormati komitmennya untuk tidak mendukung kekuatan separatis. Dimana mereka yang menganjurkan “Kemerdekaan Taiwan”. Serta berhenti mencampuri urusan dalam negeri Tiongkok.

“Upaya apa pun yang menggunakan Taiwan untuk membendung Tiongkok pasti akan gagal, dan upaya “kemerdekaan Taiwan” melalui cara militer tidak akan menghasilkan apa-apa,” tegasnya.

Tentara Pembebasan Rakyat memperkuat pelatihan militernya untuk secara tegas mempertahankan kedaulatan nasional dan integritas wilayah negaranya. Selain itu, dengan tegas memastikan perdamaian dan stabilitas di kawasan Selat Taiwan.

- Advertisement -

BACA LAINNYA

Cerita Gitaris Korn Tinggalkan Ketenaran Bikin Kamu Merinding

JCCNetwork.id- Bayangkan kamu bertemu seseorang di jalan rambut gimbal, tubuh penuh tato, tatapan tajam, aura yang bikin orang sedikit mundur. Kesan pertama? Mungkin jauh...

BERITA TERBARU

EKONOMI

TERPOPULER