Saung Ranggon, Cagar Budaya Estetik Menyimpan Perjalanan Sejarah

BACA JUGA

OLAHRAGA

TECHNOLOGY

HIBURAN

JCCNetwork.id – Di sudut Kabupaten Bekasi, tersimpan Cagar Budaya diperkirakan sudah ada sejak abad ke -16, yaitu Saung Ranggon di Jalan Cikedokan, RT.002/RW.08, Kecamatan Cikarang Barat, Kabupaten Bekasi.

Pertama tiba di tempat, suasana sakral dan sunyi sangat dirasakan. Momentum ini justru semakin meningkatkan rasa penasaran akan misteri tersimpan didalamnya.

- Advertisement -

Berbentuk bangunan seperti rumah panggung yang dikelilingi pagar, menunjukan Saung Ranggon merupakan tempat yang dilindungi dan dijaga keasliannya.

Mendekati perkarangan Saung Ranggon akan mendapati gentong berisi air di sisi pagar. Konon katanya pengunjung yang datang diharuskan mencuci muka dengan air tersebut setelah datang kesana.

Mengunjungi Saung Ranggon harus ditemani oleh Juru Kunci dan tidak boleh sembarang orang masuk tanpa seizin pemelihara tempat tersebut. Jika tidak akan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.

- Advertisement -

Sayangnya pada saat kunjungan, tim infobekasi tidak dapat bertemu Juru Kunci Saung Ranggon maupun Juru Bicaranya. Sehingga dikesempatan itu hanya dapat melihat tampak luar dari Cagar Budaya.

Menilisik dari kejauhan, di sisi Saung Ranggon terdapat Mushola yang sisinya dibangun dari anyaman bambu. Kemudian, pada pojok pagar ditemui sebuah sumur tua yang tertutup tembok.

Rumah tradisional ini pertama kali dibangun oleh Pangeran Rangga untuk bersembunyi dari serbuan colonial Belanda.

Pada tahun 1619, anak dari Pangeran Jayakarta melarikan diri setelah menerima kekalahannya atas perlawanan dengan VOC. Nah, disinilah Pangeran Rangga membangun Saung Ranggon yang Beliau harapkan tidak terlacak oleh Belanda.

Kemudian, pada tahun 1812 Saung Ranggun ini ditemukan oleh Raden Addas yang merupakan prajurit dari Kerajaan Mataram.

Rumah panggung dibangun dengan tinggi bangunan sekitar 2,5 meter kini di jaga oleh Sri Muryati yang mengaku bahwa Ia merupakan keturunan ke-7 dari Raden Abbas.

Saung Ranggon ini biasanya menggelar acara adat di sekitar pekarangan, contohnya seperti pada hari Maulid Sang Juru Kunci akan mencuci benda-benda pusaka yang ada, sehingga menjadi objek wisata religi bagi masyarakat.

Meskipun Saung Ranggon ini telah menjadi Cagar Budaya paling tua di Bekasi, wisatawan yang mengunjungi tempat ini termasuk sepi.

Namun, berdasarkan informasi yang didapat ramainya Saung Ranggon adalah pada waktu-waktu tertentu terutama malam Jumat Kliwon, Sabtu Suro, Maulid Nabi, Rajaban.

- Advertisement -

BACA LAINNYA

Distribusi Bantuan Pangan Diperpanjang

JCCNetwork.id- Perum Bulog mempercepat penyaluran bantuan pangan nasional setelah pemerintah memutuskan memperpanjang batas waktu distribusi hingga Juni 2026. Kebijakan tersebut diambil untuk memastikan seluruh...

BERITA TERBARU

EKONOMI

TERPOPULER