3. Kecepatan
Titanic sedang melaju dengan kecepatan tinggi ketika bertabrakan dengan gunung es. Pada malam itu, ada laporan adanya gunung es di perairan sekitar, tetapi kapten Titanic, Edward Smith, terus melaju dengan kecepatan tinggi tanpa memperlambat kapal.
Jika kecepatan dikurangi, dampak dari tabrakan bisa lebih ringan atau mungkin bahkan bisa dihindari.
4. Ketidaktahanan dalam tanggap darurat
Penanganan awal terhadap kecelakaan dan proses evakuasi yang buruk juga berperan dalam tingginya jumlah korban jiwa.
Kapal hanya dilengkapi dengan sekumpulan perahu penyelamat yang tidak cukup untuk menampung semua penumpang dan awak kapal.
Pelatihan yang buruk dalam menggunakan perahu penyelamat dan kurangnya latihan evakuasi menyebabkan kekacauan dan kebingungan selama proses evakuasi.
5. Ketidakadilan dalam alokasi tempat di perahu penyelamat
Terdapat kesenjangan besar dalam distribusi tempat di perahu penyelamat. Beberapa perahu meninggalkan kapal dengan kapasitas yang jauh di bawah maksimum, sementara banyak penumpang lainnya tidak dapat menemukan tempat di perahu penyelamat yang tersedia.
Dengan gabungan dari faktor-faktor di atas, maka tenggelamnya Titanic menjadi salah satu bencana maritim paling terkenal dalam sejarah, mengakibatkan hilangnya lebih dari 1.500 jiwa.
Tragedi ini juga menjadi titik balik dalam kebijakan keselamatan kapal dan standar keselamatan kelautan yang lebih ketat diterapkan setelahnya.



