BI Naikkan Insentif Likuiditas Jadi 6 Persen

BACA JUGA

OLAHRAGA

TECHNOLOGY

HIBURAN

Lisa Umumkan EP Solo Terbaru

Ruben Onsu Terseret Kasus Investasi

Sarwendah Minta Peran Ruben

JCCNetwork.id- Bank Indonesia (BI) kembali memperkuat kebijakan makroprudensial untuk mendorong penyaluran kredit perbankan ke sektor-sektor yang dinilai memiliki peran penting terhadap pertumbuhan ekonomi nasional. Salah satu langkah yang ditempuh adalah meningkatkan besaran insentif Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM) bagi perbankan.

Gubernur Bank Indonesia Destry Damayanti mengatakan, besaran insentif KLM dinaikkan dari sebelumnya 5,5 persen menjadi 6 persen. Kebijakan tersebut mulai berlaku pada September 2026 dan diarahkan untuk memperkuat fungsi intermediasi perbankan, terutama dalam menyalurkan pembiayaan kepada sektor prioritas dan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

- Advertisement -

Pernyataan itu disampaikan Destry dalam forum Sarasehan 100 Ekonom Indonesia yang digelar Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) bersama Metro TV di Jakarta, Selasa (8/9/2026). Forum tersebut membahas tantangan intermediasi perbankan dan kondisi likuiditas di tengah upaya pemerintah menjaga momentum pertumbuhan ekonomi.

Menurut Destry, peningkatan insentif tersebut merupakan bagian dari upaya BI memastikan likuiditas yang tersedia di sistem perbankan tidak hanya berhenti sebagai dana yang mengendap, tetapi dapat diteruskan menjadi kredit atau pembiayaan kepada sektor produktif.

Hingga awal Agustus 2026, nilai insentif likuiditas yang telah diberikan BI kepada industri perbankan tercatat mencapai sekitar Rp446,5 triliun. Nilai tersebut setara dengan sekitar 5,02 persen dari total Dana Pihak Ketiga (DPK) yang dihimpun perbankan.

- Advertisement -

Destry menjelaskan, salah satu mekanisme yang digunakan BI adalah memberikan kelonggaran melalui kebijakan Giro Wajib Minimum (GWM) bagi bank yang mampu meningkatkan penyaluran kredit ke sektor-sektor prioritas.

Dengan mekanisme tersebut, sebagian dana yang sebelumnya harus ditempatkan kembali di Bank Indonesia dapat tetap berada di perbankan untuk kemudian dimanfaatkan sebagai sumber pembiayaan bagi dunia usaha.

“Jadi kita menurunkan GWM untuk bank-bank yang dia menyalurkan kepada sektor-sektor yang prioritas. Dan sekarang ini sudah sekitar Rp440-an triliun dana yang mestinya Bank Indonesia itu balik ke BI, kita lempar kembali ke bank supaya dia bisa untuk menyalurkan kredit,” jelas Destry Damayanti dikutip dari Zona Bisnis Metro TV, Selasa 8 September 2026.

Likuiditas Perbankan Dinilai Masih Memadai
Di tengah peningkatan insentif tersebut, BI menilai kondisi likuiditas industri perbankan secara umum masih berada dalam posisi yang aman. Rasio Alat Likuid terhadap Dana Pihak Ketiga (AL/DPK) menunjukkan bahwa perbankan memiliki ruang likuiditas yang cukup untuk mendukung kegiatan pembiayaan.

Namun, BI mencermati persoalan lain, yakni distribusi likuiditas yang belum sepenuhnya merata antarbank maupun antarsektor ekonomi.

Berdasarkan kajian BI secara lebih rinci, sebagian likuiditas perbankan masih dialokasikan pada instrumen keuangan dan belum seluruhnya dikonversikan menjadi kredit untuk kegiatan ekonomi produktif.

Sejumlah dana tersebut, antara lain, ditempatkan pada instrumen seperti Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) dan Surat Berharga Negara (SBN). Kondisi ini menunjukkan bahwa ketersediaan likuiditas saja belum otomatis mendorong peningkatan intermediasi perbankan secara maksimal.

Karena itu, peningkatan insentif KLM diharapkan dapat memberikan dorongan tambahan kepada bank untuk mengarahkan sumber dananya ke sektor riil.

Kebijakan tersebut menjadi penting karena perbankan memiliki posisi strategis dalam menghubungkan dana masyarakat yang dihimpun melalui DPK dengan kebutuhan pembiayaan dunia usaha.

BI Soroti Permintaan Kredit

Meski demikian, Destry menegaskan bahwa penguatan dari sisi penawaran kredit perlu diimbangi dengan peningkatan permintaan pembiayaan dari dunia usaha.

BI mencatat masih terdapat nilai undisbursed loan, yakni fasilitas kredit yang telah disetujui perbankan tetapi belum seluruhnya ditarik oleh debitur. Keberadaan kredit yang belum dicairkan tersebut menunjukkan bahwa persoalan intermediasi tidak semata-mata berasal dari keterbatasan likuiditas bank.

Kondisi tersebut juga menggambarkan bahwa dunia usaha masih memiliki ruang untuk memanfaatkan fasilitas pembiayaan yang telah tersedia.

Oleh karena itu, peningkatan penyaluran kredit membutuhkan sinergi antara kemampuan perbankan menyediakan pembiayaan dan kesiapan dunia usaha untuk meningkatkan aktivitas bisnis maupun investasi.

BI berpandangan bahwa kebijakan likuiditas harus mampu menciptakan kondisi yang mendorong perbankan lebih aktif menyalurkan pembiayaan, sementara pemerintah dan pelaku usaha perlu memperkuat permintaan kredit melalui peningkatan aktivitas ekonomi.

Dorong UMKM dan Sektor Prioritas

Kenaikan insentif KLM juga diharapkan semakin memperbesar akses pembiayaan bagi UMKM. Kelompok usaha tersebut menjadi salah satu sektor penting karena memiliki kontribusi terhadap aktivitas ekonomi dan penyerapan tenaga kerja.

Dengan tambahan insentif, bank memiliki ruang yang lebih besar untuk meningkatkan penyaluran kredit kepada sektor-sektor yang menjadi sasaran kebijakan makroprudensial.

BI bersama pemerintah juga terus mendorong agar kebijakan tersebut tidak berhenti pada peningkatan likuiditas di sektor keuangan, tetapi memberikan dampak nyata terhadap aktivitas ekonomi masyarakat.

Destry menekankan pentingnya koordinasi antara otoritas moneter, pemerintah dan dunia usaha agar kebijakan yang ditempuh dapat menghasilkan transmisi yang lebih efektif dari sektor keuangan menuju sektor riil.

Dengan demikian, likuiditas yang telah dilepaskan ke sistem perbankan dapat terserap menjadi pembiayaan produktif, bukan hanya berputar di pasar keuangan.

Diharapkan Perkuat Pertumbuhan Ekonomi

Optimalisasi fungsi intermediasi perbankan menjadi salah satu faktor penting dalam menjaga kesinambungan pertumbuhan ekonomi. Ketika kredit tersalurkan secara efektif, dunia usaha memiliki tambahan modal untuk melakukan ekspansi, meningkatkan kapasitas produksi, dan memperluas kegiatan bisnis.

Dampak lanjutannya diharapkan dapat mendorong produktivitas serta membuka lebih banyak kesempatan kerja.

Karena itu, BI melihat penguatan KLM sebagai bagian dari bauran kebijakan makroprudensial yang harus berjalan beriringan dengan kebijakan pemerintah serta respons dunia usaha.

Ke depan, efektivitas kebijakan tersebut akan sangat bergantung pada kemampuan industri perbankan mengubah tambahan ruang likuiditas menjadi pembiayaan yang benar-benar digunakan untuk kegiatan produktif.

BI berharap peningkatan insentif KLM tidak hanya memperbaiki indikator intermediasi perbankan, tetapi juga memberikan dampak langsung terhadap perekonomian nasional melalui peningkatan investasi, ekspansi usaha, penguatan UMKM, produktivitas dan penciptaan lapangan kerja.

- Advertisement -

BACA LAINNYA

Febrie Diperiksa sebagai Saksi Kasus TPPU

JCCNetwork.id- Tersangka perkara dugaan tindak pidana pencucian uang (TPPU), Febrie Adriansyah, kembali menjalani pemeriksaan di Gedung Kejaksaan Agung (Kejagung), Jakarta, Kamis (3/9/2026). Kali ini,...

Lazio Sempurna di Serie A

Uang Korban Loker Dikembalikan

Gunung Ili Lewotolok Kembali Erupsi

Tiger Woods Kehilangan SIM 5 Tahun

KONTEN VIDEO
Video thumbnail
Momen Seskab Teddy Geser Mik Prabowo Usai Presiden Singgung Karhutla Dekat IKN
08:44
Video thumbnail
RUU Perampasan Aset Dipercepat atau Ditunda? #shorts #trending
02:48
Video thumbnail
Indonesia Rawan Bencana, Prabowo: Ini Takdir Negara Kita yang Berada di Ring of Fire
10:44
Video thumbnail
Tekanan Dua Arah RUU Perampasan Aset Dipercepat atau Ditunda?
08:34
Video thumbnail
Habis Terbakar Kok Langsung Jadi Lahan Kebun Sawit? #shorts #trending
01:18
Video thumbnail
Airlangga Ungkap Arahan Prabowo: BRI dan BSI Ditugaskan Buka Akses Rekening untuk Warga
04:33
Video thumbnail
Karhutla Dekat IKN Bikin Prabowo Waspada Agar Tak Melebar ke Zona Inti
08:40
Video thumbnail
Prabowo Heran Lahan Baru Terbakar, Tak Lama Kemudian Sudah Jadi Kebun Sawit
08:37
Video thumbnail
Kapal Induk Italia Segera Masuk RI Disulap Jadi Pangkalan Helikopter untuk Gempur Titik Api
08:14
Video thumbnail
Erupsi Gunung Anak Krakatau Jadi Perhatian Hujan Segera Turun, OMC Diperkuat
11:00
Video thumbnail
Tak Main-Main! Prabowo Minta Kapolri Setor Nama Pemilik Korporasi di Balik Karhutla
08:40
Video thumbnail
Pesan DPR Berantas Korupsi Boleh, Tapi Jangan Jadikan Perampasan Aset sebagai Alat Abuse of Power
01:21
Video thumbnail
DPR Tegas Perangi Korupsi, Tapi Ingatkan Aparat Jangan Sampai Perampasan Aset Jadi Abuse of Power
08:44
Video thumbnail
DPR Singgung Rencana Prabowo Pangkas 1.074 BUMN Saat Bahas RUU Perampasan Aset
10:50
Video thumbnail
Prabowo Geram! Kapolri Diminta Kejar Pelaku Karhutla untuk Kebun Sawit
09:10
Video thumbnail
Bencana Datang Bertubi-tubi, Prabowo Siapkan Tambahan Anggaran Signifikan #shorts #trending
01:44
Video thumbnail
MK Nyatakan Gugatan Masa Jabatan Kapolri Ditarik, Pemohon Tak Bisa Mengulang Perkara
01:41
Video thumbnail
Gempa hingga Anak Krakatau Jadi Perhatian, Prabowo Tambah Anggaran Mitigasi Bencana
11:08
Video thumbnail
MK Nyatakan Gugatan Masa Jabatan Kapolri Tak Bisa Diajukan Lagi Usai Ditarik
09:25
Video thumbnail
Tiba Tiba Said Iqbal Minta Maaf Kepada DPR Sambil Beberkan Alasan Pakai Kacamata
08:30

BERITA TERBARU

EKONOMI

TERPOPULER