JCCNetwork.id- Kekeringan ekstrem melanda sejumlah wilayah di Kabupaten Pati, Jawa Tengah. Kondisi tersebut membuat aliran Sungai Silugonggo di Desa Bungasrejo, Kecamatan Jakenan, berhenti total hingga dasar sungai terlihat dan dipenuhi jutaan ikan sapu-sapu yang terdampar serta mati.
Habisnya aliran sungai menjadi salah satu dampak paling terlihat dari kondisi kemarau panjang yang terjadi di wilayah tersebut. Warga menyebut Sungai Silugonggo sudah tidak dialiri air selama sekitar satu pekan terakhir.
Matinya ikan dalam jumlah besar membuat kondisi dasar sungai berubah drastis. Ikan sapu-sapu yang sebelumnya hidup di sepanjang aliran sungai kini ditemukan berserakan di bagian sungai yang mengering.
Sejumlah warga kemudian berinisiatif mengumpulkan bangkai ikan tersebut. Langkah itu dilakukan untuk mengurangi penumpukan bangkai yang berpotensi menimbulkan bau tidak sedap sekaligus memperburuk kondisi lingkungan di sekitar sungai.
Fenomena tersebut menjadi perhatian warga karena kekeringan yang terjadi tidak hanya menghilangkan sumber air bagi ekosistem sungai, tetapi juga mulai memberikan tekanan terhadap aktivitas masyarakat, terutama sektor pertanian.
Sawah Kesulitan Mendapat Air
Ketiadaan air di Sungai Silugonggo turut berdampak terhadap lahan pertanian di sekitar wilayah tersebut. Sawah yang selama ini mengandalkan pasokan air dari sungai kesulitan mendapatkan suplai untuk memenuhi kebutuhan tanaman.
Sejumlah petani bahkan harus mencari sumber air alternatif secara mandiri. Mereka membeli air untuk mempertahankan kondisi tanaman agar tidak mengalami kerusakan akibat kekurangan pasokan air.
Bagi petani, kondisi tersebut menjadi persoalan serius karena kebutuhan air meningkat ketika curah hujan tidak mencukupi. Jika kekeringan terus berlangsung, risiko tanaman mengalami penurunan produktivitas hingga gagal panen juga semakin besar.
Warga menilai kondisi Sungai Silugonggo saat ini merupakan salah satu yang terparah dalam beberapa tahun terakhir. Tidak hanya debit air yang menyusut, aliran sungai kini bahkan tidak lagi terlihat di lokasi terdampak.
Kondisi dasar sungai yang terbuka juga memperlihatkan dampak langsung terhadap kehidupan biota air. Ikan sapu-sapu yang tidak mampu bertahan akibat hilangnya habitat dan sumber air ditemukan mati dalam jumlah sangat besar.
Warga Minta Bantuan Air
Masyarakat berharap pemerintah daerah segera mengambil langkah untuk mengatasi dampak kekeringan. Salah satu kebutuhan yang dinilai mendesak adalah penyaluran bantuan air bersih atau dropping air kepada warga yang terdampak.
Selain untuk kebutuhan masyarakat, warga juga berharap tersedia solusi untuk mempertahankan tanaman pertanian yang membutuhkan pasokan air.
Mereka meminta pemerintah mempertimbangkan pembukaan atau pengaturan pasokan air dari waduk terdekat untuk membantu mengisi kembali aliran Sungai Silugonggo. Langkah tersebut dinilai dapat membantu mengurangi tekanan terhadap sektor pertanian sekaligus menjaga kondisi ekosistem sungai.
Penanganan kekeringan juga dinilai perlu dilakukan secara cepat mengingat dampaknya mulai meluas dari persoalan lingkungan ke kebutuhan ekonomi masyarakat. Petani yang harus membeli air secara mandiri berpotensi menanggung biaya produksi lebih tinggi.
Sementara itu, kematian ikan dalam jumlah besar menunjukkan bahwa kekeringan tidak hanya berpengaruh terhadap ketersediaan air bagi manusia, tetapi juga mengganggu keseimbangan ekosistem perairan.
Warga kini masih menunggu langkah penanganan dari pemerintah daerah agar kebutuhan air masyarakat dan pertanian dapat segera terpenuhi. Mereka berharap pasokan air dapat dipulihkan sebelum kondisi kekeringan semakin meluas dan menimbulkan dampak yang lebih besar.























