JCCNetwork.id- Ambisi Partai Solidaritas Indonesia (PSI) merebut basis suara PDI Perjuangan (PDIP) di Bali dan Jawa Tengah dinilai berisiko berujung kegagalan. PSI diprediksi bakal terkapar menghadapi dominasi PDIP di dua wilayah tersebut, terlebih dengan lemahnya daya dorong elektoral partai jelang Pemilu 2029.
Penilaian itu disampaikan Direktur Political and Public Policy Studies (P3S), Jerry Massie, dalam diskusi bertajuk “PSI Sulit Geser Dominasi PDIP”. Bahkan posisi PSI justru kian rapuh meski terus mengaitkan diri dengan Presiden ke-7 RI Joko Widodo.
Menurut Jerry, dukungan Jokowi tidak lagi menjadi faktor penentu kemenangan politik, apalagi saat ini Jokowi tengah dirundung sejumlah polemik, termasuk perseteruan dengan Roy Suryo dan pihak lain terkait isu dugaan ijazah palsu.
“PSI ini baru 2026 sudah bicara Pemilu 2029. Bagi saya itu lebih ke gertakan politik. Target realistis mereka sebenarnya hanya berjuang lolos ambang batas parlemen 4 persen. Bahkan menembus 3 persen saja masih sangat sulit. Prediksi saya PSI tetap terkapar di Jateng dan Bali,” ujar Jerry, Selasa (3/4/2027).
Ia menilai sikap PSI yang terlalu percaya diri justru berpotensi menjadi bumerang. Pernyataan Ketua Umum PSI Kaesang Pangarep yang menyebut akan merebut basis suara di Bali dan Jawa Tengah dinilai terlalu ambisius. Hal itu dapat ditelisik dalam perbandingan capaian Pemilu 2024, di mana PSI hanya memperoleh 2,79 persen suara nasional, jauh tertinggal dari PDIP yang meraih 16,53 persen.
“Branding PSI memang besar, baliho di mana-mana. Tapi itu bukan jaminan kemenangan. Politik bukan cuma soal uang dan pencitraan, tapi juga strategi, lawan yang dihadapi, dan cara bertanding,” tegasnya.
Direktur Eksekutif Indonesia Political Opinion (IPO), Dedi Kurnia Syah, menilai kehadiran Jokowi di sekitar PSI tidak lagi memberi keuntungan elektoral signifikan. Menurut Dedi, puncak potensi elektoral PSI sejatinya sudah terjadi pada Pemilu 2024, saat Jokowi masih menjabat Presiden dan memiliki pengaruh kekuasaan.
“Secara hitung-hitungan praktis, fase kemudahan PSI untuk meraih suara besar sudah lewat. Ke depan PSI akan bertarung setara dengan partai lain yang sudah mapan. Tidak mudah masuk parlemen karena hari ini loyalitas pemilih yang solid hanya dimiliki oleh partai seperti PDIP dan PKS,” jelas Dedi.
Sementara itu, Direktur Eksekutif Lingkar Madani Indonesia, Ray Rangkuti, menilai PSI keliru dalam mengidentifikasi lawan politiknya. Pasalnya pesaing utama PSI bukanlah PDIP, melainkan Partai Gerindra.
“Basis pemilih Jokowi sebelumnya banyak berkumpul di Gerindra. Jadi persaingan PSI itu sebenarnya dengan partai-partai dalam lingkaran koalisi Prabowo, khususnya Gerindra. Ini persaingan di dalam, bukan keluar,” ujar Ray.
Ray juga menyoroti faktor Jokowi yang kini berstatus mantan presiden. Menurutnya, pengalaman politik menunjukkan pengaruh mantan presiden terhadap elektabilitas partai tidak lagi signifikan. Ia mencontohkan Megawati Soekarnoputri dan Susilo Bambang Yudhoyono yang tidak lagi mampu mendongkrak suara partai secara dominan setelah tidak menjabat.
“Mantan presiden terbukti tidak punya efek elektoral besar untuk mendongkrak suara partai,” katanya.
Ray menambahkan pernyataan Kaesang yang tengah viral dalam beberapa Waktu belakangan bahwa Jawa Tengah bakal menjadi kendang gajah dan lainnya lebih tepat dibaca sebagai upaya memompa semangat kader. Namun, secara realistis, peluang PSI untuk lolos ke parlemen di Pemilu 2029 sangat berat.
“Kalau hanya memotivasi kader, itu wajar. Tapi kalau bicara lolos parlemen, tantangannya sangat besar,” pungkas Ray.



















