Harga Emas Dunia Pecah Rekor, Tembus US$ 5.181

BACA JUGA

OLAHRAGA

TECHNOLOGY

HIBURAN

JCCNetwork.id- Harga emas dunia melonjak tajam dan mencetak rekor tertinggi sepanjang sejarah pada perdagangan Rabu (28/1/2026). Lonjakan ini terjadi di tengah meningkatnya ketidakpastian ekonomi global dan tensi geopolitik yang mendorong investor mengalihkan aset ke instrumen lindung nilai atau safe haven.

Berdasarkan data pasar global, harga emas spot melesat lebih dari 3 persen dan menembus level tertinggi sepanjang masa di US$ 5.181,84 per ons troi. Sementara itu, kontrak berjangka emas Amerika Serikat untuk pengiriman Februari ditutup relatif stabil di kisaran US$ 5.082,60 per ons troi.

- Advertisement -

Sepanjang tahun 2026, pergerakan harga emas menunjukkan tren penguatan signifikan. Logam mulia tersebut telah mencatat kenaikan lebih dari 18 persen sejak awal tahun, melanjutkan reli kuat yang terjadi sepanjang tahun sebelumnya. Kenaikan ini dipicu oleh kombinasi sejumlah faktor, mulai dari meningkatnya ketidakpastian ekonomi global, eskalasi geopolitik, ekspektasi pelonggaran kebijakan moneter Amerika Serikat, hingga masifnya pembelian emas oleh bank sentral di berbagai negara.

Ahli strategi komoditas Bank of America, Michael Widmer, menilai reli harga emas masih memiliki ruang untuk berlanjut. Menurutnya, faktor-faktor fundamental yang mendorong kenaikan harga hingga kini belum menunjukkan tanda-tanda mereda.

“Reli biasanya berakhir ketika faktor pendorong awalnya mereda, dan saat ini hal itu belum terjadi,” ujar ahli strategi komoditas Bank of America, Michael Widmer, dilansir dari Reuters.

- Advertisement -

Kekhawatiran pelaku pasar semakin meningkat setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengumumkan rencana penerapan tarif baru terhadap sejumlah produk impor asal Korea Selatan. Kebijakan tersebut dikhawatirkan memicu ketegangan dagang baru dan memperburuk ketidakpastian ekonomi global.

Di sisi lain, risiko penutupan sebagian operasional pemerintahan Amerika Serikat turut membayangi pasar keuangan global, menyusul belum tercapainya kesepakatan anggaran menjelang tenggat pendanaan pada akhir Januari 2026. Situasi ini menambah tekanan terhadap pasar saham dan mendorong investor mencari aset yang dinilai lebih aman.

Fokus pasar saat ini juga tertuju pada pertemuan kebijakan dua hari bank sentral Amerika Serikat, Federal Reserve (The Fed). Meskipun suku bunga acuan diperkirakan akan dipertahankan, investor menantikan pernyataan Ketua The Fed Jerome Powell, terutama terkait arah kebijakan moneter ke depan dan isu independensi bank sentral yang belakangan menjadi sorotan.

Optimisme terhadap prospek emas turut tercermin dari sejumlah lembaga keuangan global yang menaikkan proyeksi harga logam mulia tersebut. Deutsche Bank dan Societe Generale, misalnya, memperkirakan harga emas berpotensi menembus level US$ 6.000 per ons troi pada akhir tahun 2026, seiring berlanjutnya tekanan ekonomi dan tren dedolarisasi global.

Lonjakan minat terhadap emas juga tercermin dari aktivitas perdagangan di bursa derivatif. CME Group melaporkan bahwa penjualan logam mulia mencatat rekor volume harian sebanyak 3.338.528 kontrak pada akhir Januari 2026. Angka tersebut melampaui rekor sebelumnya yang berada di level 2.829.666 kontrak, menandakan tingginya partisipasi investor dalam perdagangan emas.

Dengan kondisi global yang masih dibayangi ketidakpastian, emas diperkirakan tetap menjadi aset pilihan utama investor dalam menjaga nilai portofolio mereka dalam waktu dekat.

- Advertisement -

BACA LAINNYA

Kecelakaan Bus dan Truk Lumpuhkan Jalur Cipali

JCCNetwork.id-Kecelakaan lalu lintas melibatkan bus PO Semeru dan sebuah truk terjadi di Kilometer 182 ruas Tol Cipali arah Jakarta menuju Jawa Tengah, Sabtu (23/5/2026)...

BERITA TERBARU

EKONOMI

TERPOPULER