Kenaikan Tarif Ojek Online Kedok Korporasi Digital Menghisap Peluh Driver Dan Memeras Rakyat

BACA JUGA

OLAHRAGA

TECHNOLOGY

HIBURAN

JCCNetwork.id- Ketua Umum LSM PENJARA 1, Teuku Z. Arifin mengatakan wacana kenaikan tarif ojek online (ojol) hingga 15% yang kembali mengemuka belakangan ini patut dicurigai. Bukan karena kenaikan tarif itu sendiri, tetapi karena wacana ini justru berpotensi memperparah penderitaan para driver dan membebani masyarakat sebagai pengguna layanan.

- Advertisement -

Jika ditilik lebih dalam, persoalan utama yang menjadi keluhan para driver bukan terletak pada rendahnya tarif semata, melainkan pada tingginya potongan yang diambil oleh aplikasi, yang selama ini berjalan tanpa batas dan tanpa kendali.

Potongan yang bisa mencapai 20-30% dari pendapatan driver ini sejatinya merupakan bentuk perampasan hasil kerja. Ditambah lagi dengan sistem promo dan diskon yang tampaknya memberi keuntungan kepada pelanggan, tetapi sejatinya menjadi jerat yang menekan pendapatan driver hingga ke titik nadir.

Dengan skema yang demikian, wacana kenaikan tarif hanyalah kamuflase dari strategi korporasi aplikasi untuk meraih margin keuntungan yang lebih besar.

- Advertisement -

Kenaikan tarif akan diikuti oleh kenaikan nominal potongan yang diterima aplikasi, sementara driver tetap menjadi objek eksploitasi, dan masyarakat pun harus menanggung beban harga yang lebih tinggi. Ini bukan solusi, ini adalah pengkhianatan terhadap prinsip keadilan ekonomi rakyat,” kata Teuku Z. Arifin, dalam keterangannya, Selasa (15/7/2025).

Lebih ironis lagi, kebijakan yang seharusnya melindungi rakyat, justru cenderung berpihak kepada kepentingan perusahaan aplikasi digital. Negara seakan membiarkan platformplatform besar ini menjelma menjadi kekuatan ekonomi baru yang bergerak tanpa pengawasan, tanpa kontrol, dan tanpa pertanggungjawaban sosial.

Alih-alih menjadi alat pemberdayaan, aplikasi digital berubah menjadi alat kapitalisasi yang merampas hak-hak ekonomi rakyat, baik driver sebagai mitra kerja maupun masyarakat sebagai pengguna layanan. Model bisnis berbasis potongan dan promo ini kami nilai sebagai bentuk baru dari perbudakan modern.

Mereka membangun sistem yang membuat driver terjebak dalam lingkaran setoran dan target, dengan dalih algoritma dan bonus yang penuh tipu daya,” tandasnya.

Sementara itu, perusahaan aplikasi menikmati keuntungan berlipat dari sistem yang eksploitatif ini, dengan menyisakan sedikit remah bagi para driver yang sebenarnya adalah penggerak utama roda layanan.

Ketika bertanya siapa sesungguhnya yang diuntungkan dari wacana kenaikan tarif ini? Jawabannya terang benderang. Korporasi aplikasi akan mendapatkan keuntungan lebih besar dengan dalih kenaikan harga pasar. Pemerintah akan merasa telah menjalankan fungsi regulasi dengan mengumumkan penyesuaian tarif, padahal kenyataannya tidak ada perubahan signifikan yang berpihak kepada driver.

Sebaliknya, driver tetap terjepit di antara potongan yang mencekik dan target yang memaksa, sedangkan masyarakat luas harus menerima konsekuensi berupa kenaikan harga layanan tanpa jaminan kualitas.

Untuk itu, LSM PENJARA 1 menyatakan dengan tegas, menolak keras wacana kenaikan tarif ojol jika tidak disertai dengan kewajiban penurunan potongan aplikasi secara drastis dan pengaturan skema promo yang transparan dan adil.

Mendesak pemerintah untuk tidak sekadar menjadi penonton atau bahkan fasilitator bagi kepentingan korporasi, tetapi bertindak sebagai regulator sejati yang memastikan adanya keadilan bagi semua pihak.

“Kami juga mendorong para driver untuk bersatu, membentuk kekuatan kolektif, koperasi atau serikat mandiri, yang bisa menjadi alternatif nyatamelawan monopoli dan eksploitasi digital yang terjadi saat ini,” tandasnya.

Dan kepada masyarakat, LSM PENJARA 1 menyerukan agar tetap kritis dan tidak terjebak dalam narasi yang sengaja diatur oleh perusahaan aplikasi demi melanggengkan keuntungan mereka. LSM PENJARA 1 berdiri tidak sekadar untuk mengumbar slogan, tetapi untuk memperjuangkan hak-hak yang terampas dan suara-suara yang dibungkam.

“Di era ini, perbudakan tak lagi memakai rantai dan borgol, tetapi bersembunyi di balik aplikasi pintar, skema potongan, dan algoritma yang seolah-olah canggih, padahal sejatinya adalah wajah baru dari ketidakadilan yang dibungkus kemasan modern,” pungkasnya.

- Advertisement -

BACA LAINNYA

KAI Pastikan Perjalanan KA Malang Kembali Normal

JCCNetwork.id- Operasional perjalanan kereta api dari Stasiun Malang kembali berjalan normal setelah sempat terganggu akibat insiden kecelakaan yang terjadi di wilayah Bekasi Timur. PT...

BERITA TERBARU

EKONOMI

TERPOPULER