JCCNetwork.id- Pemerintah Indonesia menetapkan target ambisius untuk mencapai swasembada gula dalam tiga tahun mendatang, dengan proyeksi produksi nasional mencapai 5 juta ton pada tahun 2028. Langkah ini dilakukan guna mengurangi ketergantungan terhadap impor dan memperkuat ketahanan pangan nasional.
Target tersebut disampaikan langsung oleh Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Zulkifli Hasan, usai memimpin Rapat Koordinasi Terbatas (Rakortas) bersama sejumlah menteri dan pejabat tinggi negara di Jakarta, Kamis (12/6/2025). Rakortas tersebut turut dihadiri Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman, Menteri Perdagangan Budi Santoso, serta jajaran pejabat lintas kementerian dan lembaga.
“Semua bisa kita capai. Dalam tiga tahun ke depan, kita bisa swasembada gula dengan total produksi sekitar 5 juta ton,” ujar Zulkifli Hasan dalam konferensi pers seusai rakortas.
Menurut Zulkifli, swasembada gula tidak hanya ditujukan untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga, tetapi juga mencakup kebutuhan industri, terutama melalui produksi gula rafinasi yang masih harus diimpor dalam jumlah besar.
“Produksi gula konsumsi kita memang masih kurang sedikit, tapi kita ingin swasembada tidak hanya untuk konsumsi rumah tangga, tapi juga untuk kebutuhan industri melalui gula rafinasi,” tegasnya.
Untuk mendukung target tersebut, pemerintah mendorong penyempurnaan kebijakan dan regulasi, termasuk revisi terhadap Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 40 Tahun 2023 tentang Percepatan Swasembada Gula Nasional dan Penyediaan Bioetanol, serta penyempurnaan Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 15 Tahun 2024 yang mengatur pembentukan Satuan Tugas Percepatan Swasembada Gula dan Bioetanol.
“Perpres 40 perlu disempurnakan, dan Keppres 15 juga sedang dalam proses penyempurnaan untuk memperkuat kinerja satgas swasembada gula,” ujarnya.
Sementara itu, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menekankan pentingnya dua pendekatan utama dalam mencapai target tersebut, yakni melalui intensifikasi dan ekstensifikasi pertanian tebu.
Dalam aspek intensifikasi, pemerintah akan fokus pada perbaikan sistem irigasi, penggunaan benih unggul, serta revitalisasi lahan tebu. Sedangkan untuk ekstensifikasi, pemerintah telah menetapkan target penambahan lahan tebu seluas 200.000 hektare, sebagai bagian dari target nasional 500.000 hektare.
“Anggaran yang disiapkan melalui PTPN diperkirakan mencapai Rp 10 hingga Rp 40 triliun. Ini target minimal, bukan maksimal,” jelas Amran.
Amran juga menyoroti lemahnya produktivitas lahan akibat dominasi ratun — batang sisa panen yang sudah tidak produktif. Berdasarkan data Kementerian Pertanian, sekitar 86% ratun saat ini telah dipanen lebih dari tiga kali, yang berarti lahan tersebut sudah tidak optimal lagi.
“Bayangkan, 86% ratun kita sudah berusia lebih dari tiga kali panen. Artinya sudah rusak. Kita harus menyelesaikan ini secepatnya. Paling lambat tiga tahun, semua ratun harus dibongkar. Tak ada pilihan lain,” tegasnya.
Dengan strategi yang terintegrasi antara pembenahan infrastruktur pertanian, perluasan lahan, dan reformasi regulasi, pemerintah berharap bisa mengurangi impor gula secara signifikan sekaligus memperkuat kedaulatan pangan dalam negeri.
Program swasembada gula ini juga bersinggungan dengan upaya pemerintah untuk mengembangkan bioetanol sebagai sumber energi terbarukan, yang turut diatur dalam regulasi yang sedang dalam proses penyempurnaan tersebut.
Jika seluruh rencana berjalan sesuai jadwal, Indonesia diproyeksikan tidak hanya mampu mencukupi kebutuhan gula domestik, tetapi juga membuka potensi ekspor dan memperkuat posisi ekonomi nasional di sektor agribisnis.



