JCCNetwork.id- Harga emas meroket lebih dari 3% pada Jumat (13/10/2023), dalam tujuh bulan terakhir. Lonjakan ini terjadi akibat meningkatnya ketegangan di Timur Tengah, yang mendorong investor untuk mencari investasi yang dianggap aman, seperti emas.
Selain itu, ekspektasi bahwa suku bunga Amerika Serikat telah mencapai puncaknya juga memberikan dorongan tambahan.
Harga emas naik sebesar 3,24% menjadi US$ 1.929 per ons, sementara harga emas berjangka AS menguat sebesar 3,1% menjadi US$ 1.941. Dalam sepanjang minggu ini, kedua jenis emas tersebut telah mengalami kenaikan sebesar 5,2%.
Investor terus memonitor perkembangan konflik di Timur Tengah yang telah mempengaruhi pasar sejak awal minggu ini. Israel telah mulai melakukan serangan darat di Jalur Gaza, mengubah dinamika perang udara yang sebelumnya berlangsung, dengan tujuan untuk mengatasi kelompok pejuang Hamas, khususnya setelah serangan di selatan Israel pada minggu lalu.
Situasi ini memicu minat investor dalam aset yang dianggap sebagai tempat berlindung aman, termasuk emas.
Menurut Edward Moya, seorang analis di OANDA yang dikutip oleh CNBC International, “Investor beralih ke aset-aset yang lebih aman karena risiko ketegangan di Timur Tengah meningkat”
Apabila situasi geopolitik semakin memburuk, harga emas berpotensi mencapai level US$ 2.000 dalam tahun ini, setelah sebelumnya berada dalam kisaran harga US$ 1.800 hingga US$ 1.900.
























