JCCNetwork.id- Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyampaikan laporan terbaru terkait perkembangan pemulihan pasokan listrik dan distribusi energi di wilayah terdampak bencana kepada Presiden Prabowo Subianto. Laporan tersebut disampaikan dalam sidang kabinet paripurna yang digelar di Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin (15/12/2025).
Dalam paparannya, Bahlil menjelaskan bahwa proses pemulihan kelistrikan di sejumlah daerah menunjukkan perkembangan yang bervariasi. Untuk wilayah Sumatera Barat dan Sumatera Utara, pasokan listrik disebut telah pulih secara signifikan dan mendekati kondisi normal. Namun, situasi berbeda masih terjadi di Provinsi Aceh.
Menurut Bahlil, kapasitas listrik yang tersedia di Aceh saat ini baru mencapai rata-rata 60 megawatt (MW) dari total kebutuhan sekitar 110 MW. Dengan demikian, pasokan listrik baru terpenuhi sekitar 54 persen, sementara sisanya masih mengalami defisit. Kondisi tersebut menyebabkan sebagian wilayah masih bergantung pada penggunaan generator set (genset) sebagai sumber listrik sementara.
“Artinya, masih ada kekurangan sekitar 50 MW,” ujar Bahlil.
Ia menjelaskan, percepatan pemulihan listrik di Aceh sangat bergantung pada penyelesaian pembangunan dan perbaikan jaringan gardu induk. Hingga saat ini, progres pengerjaan gardu induk tersebut telah mencapai sekitar 80 hingga 90 persen. Apabila infrastruktur tersebut rampung, aliran listrik dari pembangkit di Arun dan Bireuen dapat kembali masuk secara normal dan tersambung dengan sistem transmisi Sumatera secara menyeluruh.
Meski demikian, Bahlil menegaskan bahwa normalnya sistem transmisi belum serta-merta membuat seluruh wilayah, khususnya desa-desa terdampak, dapat langsung menikmati aliran listrik. Ia menyebut masih banyak infrastruktur pendukung yang mengalami kerusakan berat, mulai dari akses jalan yang terputus hingga robohnya tiang jaringan tegangan rendah.
“Ada juga sebagian desa yang memang masih banjir, masih ada air. Kalau ini kita paksakan untuk dialiri listrik, itu akan berdampak pada kecelakaan di masyarakat,” tutur Bahlil.
Selain melaporkan kondisi kelistrikan, Menteri ESDM juga memaparkan perkembangan distribusi bahan bakar minyak (BBM) dan liquefied petroleum gas (LPG) di wilayah terdampak bencana. Di Sumatera Barat, distribusi BBM dan LPG dinilai relatif terkendali dan mampu memenuhi kebutuhan masyarakat.
Sementara itu, di Sumatera Utara, distribusi LPG masih menghadapi kendala akibat terbatasnya akses transportasi darat. Untuk mengatasi hal tersebut, pemerintah menambah armada kapal laut guna mempercepat pengiriman dan menjaga ketersediaan energi bagi masyarakat.
Adapun di Aceh, tantangan distribusi BBM dan LPG disebut paling berat. Setidaknya terdapat tiga kabupaten yang sulit dijangkau melalui jalur darat akibat kerusakan infrastruktur. Untuk memastikan pasokan energi tetap tersedia, pemerintah mengerahkan berbagai moda transportasi alternatif, mulai dari helikopter, pesawat Hercules, jalur laut, hingga penggunaan rakit di wilayah tertentu.
“Apa pun yang bisa kita dorong untuk bisa melakukan percepatan, kita maksimalkan potensi yang ada,” pungkas Bahlil.
Pemerintah menegaskan komitmennya untuk terus mempercepat pemulihan sektor energi di wilayah terdampak bencana sebagai bagian dari upaya pemulihan ekonomi dan kehidupan sosial masyarakat.

















