JCCNetwork.id- Ketua Bidang Khusus DPP Himpunan Petani Sejahtera Mandiri Indonesia (HPSMI), Mochammad Jodi Husein, menilai krisis regenerasi petani sebagai ancaman serius bagi keberlanjutan sektor pertanian dan ketahanan pangan nasional. Rendahnya keterlibatan generasi muda disebut menjadi tantangan utama dalam pembangunan pertanian di Indonesia.
“Petani masih dianggap sebagai pekerjaan yang tidak menguntungkan. Kita sangat membutuhkan solusi untuk mengatasi aging farmer atau penuaan petani agar sektor pertanian tetap berkelanjutan dengan mengoptimalkan peran pemuda,” ujar Jodi.
Partisipasi generasi Z, yang lahir antara 1997 hingga 2012, tercatat hanya 2,14 persen. Faktor keterbatasan modal, minimnya akses lahan bagi generasi muda di desa, serta kurangnya dukungan keluarga disebut menjadi hambatan utama. Banyak anak muda enggan menjadikan pertanian sebagai pilihan karier karena dianggap kurang menjanjikan, sementara sebagian orang tua berharap anaknya tidak mengikuti jejak menjadi petani.
Jodi menegaskan, upaya menjadikan petani sejahtera dan mandiri menjadi kunci untuk menarik minat generasi muda. Ia menekankan pentingnya peran aktif pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan melalui kebijakan serta program yang mendukung regenerasi petani. Dengan langkah tersebut, kesejahteraan petani dapat meningkat dan ketahanan pangan nasional terjaga.
Selain itu, persepsi negatif terhadap pertanian sebagai sektor kurang modern dan menjanjikan, serta stigma rendahnya pendidikan dan status sosial petani, turut membuat generasi muda enggan terjun ke bidang ini.













