JCCNetwork.id- Timnas Indonesia U-22 menghadapi kritik tajam usai tampil mengecewakan di SEA Games 2025. Garuda Muda menelan kekalahan 0-1 dari Filipina pada laga perdana Grup A, menempatkan Indonesia di ambang eliminasi sejak pertandingan pertama.
Ironisnya, kekalahan ini terjadi setelah PSSI memberikan berbagai fasilitas istimewa untuk skuad U-22. Regulasi yang mewajibkan pemain muda tampil di Super League, jeda kompetisi untuk persiapan ASEAN Cup U-23, hingga pemanggilan pemain diaspora seharusnya menjadi modal bagi prestasi.
Namun, semua keistimewaan itu justru berbalik menjadi bumerang. Pemain yang sebelumnya dijamin menit bermain tidak menunjukkan kualitas yang diharapkan. Tim yang seharusnya matang dan solid, justru tampil tidak optimal, sementara pemanggilan pemain diaspora dan jeda kompetisi tidak menghasilkan hasil positif.
PSSI bahkan meniadakan FIFA Matchday November demi uji coba tim U-22, yang berdampak pada penurunan peringkat FIFA tim senior. Strategi yang dimaksudkan untuk memperkuat Garuda Muda kini menjadi sorotan, karena hasil buruk menunjukkan kebijakan ini gagal meningkatkan prestasi di SEA Games.
Rafael Struick dan rekan-rekan kini hanya bisa berharap pada jalur runner-up terbaik, tergantung pada hasil grup lain untuk mempertahankan peluang lolos. Keistimewaan yang seharusnya menjadi modal, kini berubah menjadi beban bagi Timnas U-22 Indonesia.























