JCCNetwork.id- Dampak erupsi Gunung Semeru di Lumajang, Jawa Timur, terus meluas sepekan setelah letusan besar terjadi pada Rabu (19/11/2025). Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan tiga warga mengalami luka berat, sementara 205 hektare lahan pertanian rusak akibat terpaan awan panas dan hujan abu. Data terbaru disampaikan Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, pada Senin (24/11/2025).
Menurut Muhari, ketiga korban kini menjalani perawatan intensif di RSUD Dr. Haryoto Lumajang.
“Ketiga korban kini dirawat di RSUD Dr Haryoto Lumajang,” ujar Muhari.
Selain kerusakan pertanian, erupsi juga merusak 21 rumah penduduk, fasilitas pendidikan dan kesehatan, serta satu gardu PLN. Tiga desa tercatat paling terdampak: Supiturang dan Oro-Oro Ombo di Kecamatan Pronojiwo, serta Desa Penanggal di Kecamatan Candipuro.
Hingga Minggu (23/11/2025), sebanyak 528 warga dari tiga desa tersebut terpaksa mengungsi. Mereka tersebar di dua lokasi, yakni SMP Negeri 02 Pronojiwo yang menampung 307 jiwa dan SDN 04 Supiturang dengan 221 jiwa. Meski berada di pengungsian, sebagian warga tetap kembali ke desa pada siang hari untuk membersihkan rumah atau mencari pekerjaan demi memenuhi kebutuhan sehari-hari.
“Meski di pengungsian, sebagian pengungsi tetap beraktivitas membersihkan rumah dan berusaha bekerja,” tambah Muhari.
BNPB telah menyalurkan bantuan logistik dan kebutuhan dasar untuk para pengungsi. Bantuan mencakup 300 matras, 300 terpal, 300 selimut, 200 masker medis, 200 paket kantong sampah, 150 paket alat kebersihan, 1.000 makanan siap santap, serta 200 paket sembako. Distribusi dilakukan bersama perwakilan Komisi VIII DPR RI yang meninjau langsung kondisi pengungsian.
Sementara itu, Badan Geologi Kementerian ESDM memaparkan bahwa erupsi terjadi pada Rabu pukul 16.00 WIB dengan kolom letusan mencapai ketinggian 2.000 meter. Awan panas guguran tercatat meluncur hingga tujuh kilometer dari puncak Gunung Semeru. Abu vulkanik berwarna kelabu tebal terhembus ke arah utara dan barat laut. Aktivitas vulkanik terekam alat seismogram dengan amplitudo maksimum 40 milimeter dan durasi 16 menit 40 detik.
Erupsi dinyatakan mereda pada pukul 18.11 WIB, namun status gunung tetap berada pada level IV atau awas. Pemerintah Kabupaten Lumajang menetapkan status tanggap darurat hingga 26 November 2025 untuk mengantisipasi potensi letusan susulan dan memastikan percepatan penanganan warga terdampak.























