JCCNetwork.id-Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) mencatat penguatan tajam pada perdagangan Kamis (22/5/2025), didorong oleh respons pasar yang positif terhadap kebijakan moneter Bank Indonesia serta meningkatnya kekhawatiran atas kondisi fiskal Negeri Paman Sam.
Berdasarkan data pasar spot Bloomberg pada pukul 09.34 WIB, rupiah menguat 101,5 poin atau 0,62 persen ke posisi Rp16.297 per dolar AS. Kinerja ini melanjutkan tren positif setelah sehari sebelumnya ditutup menguat tipis 16,5 poin ke Rp16.396 per dolar AS.
Di sisi lain, indeks dolar AS melemah tipis sebesar 0,05 poin menjadi 99,5. Sementara itu, imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun justru naik 18 basis poin ke level 4,59 persen, mencerminkan sentimen pasar yang waspada terhadap prospek fiskal Amerika.
Analis pasar keuangan, Ibrahim Assuaibi, menyebutkan bahwa penguatan rupiah dipicu oleh langkah Bank Indonesia memangkas suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 5,50 persen. Selain itu, suku bunga Deposit Facility turut diturunkan menjadi 4,75 persen, sedangkan Lending Facility tetap di level 6,25 persen.
“Langkah ini mencerminkan keyakinan BI bahwa inflasi pada 2025 dan 2026 akan tetap berada dalam kisaran target 2,5 persen ±1 persen. Ini juga merupakan upaya menjaga stabilitas nilai tukar sekaligus memperkuat pemulihan ekonomi nasional,” ujar Ibrahim.
Sementara itu, laporan dari TradingView mencatat pergerakan mata uang utama Asia terhadap dolar AS cenderung stabil pada Kamis pagi. Namun, investor global masih mencermati dinamika fiskal AS yang rentan terhadap defisit anggaran. Hal ini diperburuk oleh hasil lelang obligasi tenor 20 tahun yang kurang diminati pasar.
Di tengah tekanan eksternal tersebut, rupiah justru tampil kuat. Bila sentimen global membaik, mata uang Garuda berpotensi melanjutkan tren penguatan dalam beberapa hari ke depan.
























