Aksi Boikot Produk Israel Mendunia, Zionis Potensi Bangkrut?

BACA JUGA

OLAHRAGA

TECHNOLOGY

HIBURAN

Lisa Umumkan EP Solo Terbaru

Ruben Onsu Terseret Kasus Investasi

Sarwendah Minta Peran Ruben

JCCNetwork.idAksi Boikot produk Israel semakin membumi di seluruh dunia. Hal ini seiring dengan kejahatan perang Israel yang semakin bertubi-tubi di tanah Palestina.

Akibatnya, sejumlah perusahaan yang menjadi target aksi boikot tersebut mulai menunjukan kecemasan yang besar karena bisa berpotensi bangkrut.

- Advertisement -

Tidak sedikit dari mereka mengklarifikasi bahwa aksi boikot produk tersebut sudah berdampak pada berkurangnya jumlah pelanggan mereka.

Meski begitu, sejauh ini belum ada laporan resmi tentang derita Israel imbas dari aksi boikot tersebut.

Namun, media Al Jazeera sejak 2018 lalu mengungkapkan, bahwa gerakan boikot ini berpotensi menimbulkan kerugian untuk Israel hingga US$11,5 miliar atau sekitar Rp180,48 triliun (asumsi kurs Rp15.694/US$) per tahun.

- Advertisement -

Dengan demikian, maka jelaslah bahwa Israel sangat ketar-ketir dengan boikot produk tersebut yang akan berdampak pada kerugian ini.

Selain itu, dalam beberapa waktu terakhir, misi utama diplomatik Israel adalah menanggulangi gerakan Boikot, Divestasi, dan Sanksi (BDS).

Meski demikian, Israel melansir The Jerusalem Post membantah gerakan boikot itu bisa merugikan ekonomi mereka. Justru, mereka menyebut bahwa hal itu akan memperpanjang derita Rakyat Palestina bukan merugikan.

Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu menegaskan bahwa pihaknya tengah bertindak untuk melarang kelompok yang mendukung gerakan boikot tersebut.

Karena, ribuan orang di Israel disebut berpotensi kehilangan pekerjaan, jika negara mereka diboikot secara penuh oleh dunia internasional.

- Advertisement -

BACA LAINNYA

Pria di Lagoa Dibacok, 4 Pelaku Dikejar

JCCNetwork.id- Polisi memburu empat orang yang diduga terlibat dalam aksi pembacokan terhadap seorang pria berinisial WFM (27) di Jalan Lagoa Sinar, Kelurahan Lagoa, Kecamatan...

BERITA TERBARU

EKONOMI

TERPOPULER